BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
 Dosen Pasca Sarjana UNUSIA, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
Yang Tak Siap Menang Cuma Elit Politik, Rakyat Tenang Saja

Bertahan sampai titik terakhir adalah jiwa seorang ksatria. Tapi bertahan dengan menolak kaidah ilmiah yang sudah teruji dan diakui adalah mengingkari akal sehat. 

Seorang ksatria akan bertahan dengan cara elegan dengan menjaga kewarasan. Bukan dengan cara menista akal sehat yang biadab. Karena yang demikian itu sama dengan kelakuan para pecundang.

Tapi, namanya politik harus ada deal, negosiasi. Saya pikir yang terjadi saat ini adalah bagian dari proses untuk melakukan deal tersebut. Maka, sementara ini akal sehat dan bahkan kaidah ilmiah bisa dilanggar.  

Secara politik, pertama, seorang pimpinan tidak mungkin langsung mengecewakan pendukungnya. Dia harus menjaga soliditas pendukungnya. Karena jika ia langsung menerima hasil (pilpres) begitu saja, dia akan terlihat lemah di mata pendukungnya. Kedua, bila tidak ngotot, dia akan kehilangan bargain (posisi tawar). Dengan cara ngotot ini kan nanti ada proses negosiasi dan tawar menawar di dunia politik.

Yang kita lihat sekarang, hati nurani dan akal sehat dikalahkan dalam kerangka untuk menggolkan kepentingan. Ketika kepentingan lebih mendominasi dan melebihi dari semuanya (logika, akal sehat, hati nurani), bahkan Tuhan pun bisa dibajak untuk memenuhi ambisi dan kepentingan itu. Makanya dari kemarin-kemarin saya selalu mewanti-wanti, dalam dunia politik nilai dan moralitas jadi tumpuan. Politik adalah dunia yang vulgar, brutal, dan penuh pertarungan yang ketat. Dalam suasana seperti itu semuanya bisa diabaikan.              

Demokrasi kita masih dalam proses pendewasaan. Amerika mencapai titik seperti sekarang setelah berabad-abad prises pendidikan berdemokrasi. Kita melakukan proses demokrasi yang relatif bebas kan baru beberapa dekade terakhir. Jadi, kita harus lihat ini sebagai proses (pendewasaan politik) kita. Di zaman demokrasi kita yang mulai liberal ini masih terkontaminasi oleh ego, emosi, dan kepentingan yang lebih dominan.       
  
Saya yakin setelah KPU menetapkan siapa yang menang, suasana akan aman lagi. Bila mereka nanti ke MK, nanti sebulan-dua bulan lagi akan selesai masalahnya. Sekarang saja sedang panas-panasnya. Rakyat di bawah juga merasa tenang-tenang saja.

Yang ribut ini cuma elite dan pendukung elite yang khawatir kehilangan posisi. Yang kemarin memilih 01 atau 02 sama-sama tenang, tak ribut. Masyarakat punya self defense mechanism sendiri untuk hal-hal seperti ini, meskipun berusaha ditarik-tarik (elite politik) bahkan sampai membajak Tuhan dan melakukan politik uang, nyatanya rakyat kurang tertarik ikut-ikutan. 

Bahwa, sebagian rakyat kemudian tertarik memilih 02 (Prabowo-Sandi), yang saya amati, suara kubu 02 di 14 provinsi yang ia menangkan rata-rata daerah yang warna Islam formalisnya kental. Maka saya memahami daerah-daerah itu masih termakan oleh Islam politik dan simbolisme Islam. Hal itu kemudian dikapitalisasi oleh kubu Prabowo.Namun pada umumnya, mereka tak bisa menarik orang-orang untuk bersikap bermusuhan, anarkis, atau membuat kerusuhan. (ade)           

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan