BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Civil Engineer Universitas Indonesia, Pemerhati Isu Tranportasi Publik
Yang Penting Kenyamanan dan Keselamatan

Saya adalah salah satu commuter yang terkadang (dalam titik tertentu malah “selalu”) ragu untuk menggunakan tranportasi apa yang sebaiknya yang saya gunakan untuk menunjang aktivitas keseharian saya. Saat ini saya bekerja di bilangan Jakarta Pusat yang syukurnya untuk menuju kantor saya tinggal memilih salah satu dari  sekian banyak opsi transportasi yang saya punya. Keraguan ini muncul tentu setelah mempertimbangkan banyak aspek.
 
Hal yang menjadi prioritas saya (dan mungkin juga bagi pembaca) untuk memilih transportasi publik tentunya adalah kenyamanan dan keselamatan. Ini menjadi penting karena prinsipnya adalah kita menyerahkan nyawa kita ke sistem transportasi yang akan kita gunakan.

Bagaimana transportasi publik menjamin kita sampai di tujuan dengan nyaman dan aman tentu menjadi tantangan bagi penyedia layanan. Bagaimana tidak, mereka harus memastikan setidak-tidaknya akses naik dan turun halte dan stasiun yang jelas dan nyaman, bus atau kereta yang tidak ugal-ugalan, tidak ada copet, peta jalur yang jelas dan informatif, pramudi yang humanis, hingga skema emergency yang informatif bila sewaktu-waktu diperlukan. Tentu saya berharap MRT Jakarta sudah mempertimbangkan ini, bila perlu menjadikan kenyamanan dan keselamatan ini menjadi kode etik perusahaan.

Selanjutnya adalah soal tarif. Harap dimengerti saya bukanlah generasi milenial yang seenak jidat menunjuk salah satu barang di mall terkenal, lantas barang tersebut menjadi milik saya. Tarif ini menjadi prioritas selanjutnya sehubungan dengan persentasi alokasi bulanan yang harus saya keluarkan untuk mobilitas keseharian saya. Saya akan berpikir untuk beralih ke transportasi pribadi jika besar ongkos/ tarif transportasi publik lebih mahal dari biaya bensin untuk mobilitas keseharian saya. Pertimbangan tarif ini menjadikan saya selalu ragu
untuk memilih model transportasi apa yang sebaiknya saya gunakan.

Untuk itu saya memohon, tarif MRT Jakarta janganlah mahal-mahal. Jangan tambah keraguan saya. 

Bicara tentang pengawasan dalam sistem transpostasi publik. Menurut saya, tidak bisa dipungkiri saat ini sistem transportasi publik kita mutlak sangat membutuhkan ini, anda-anda sekalian tentu sudah tidak asing dengan pencopetan, pencopetan, dan masih banyak lagi di bus/ kereta. Untuk itu, dalam keadaan tertentu sistem pengawasan harus sangat keras dan ketat terutama menyangkut kenyamanan dan keselamatan penumpang. Namun juga dituntut humanis untuk memberikan rasa perikemanusian terhadap penumpang. 

Pada akhirnya, kita sebagai penumpang harus bisa memahami kendala yang
dihadapi para penyedia transportasi publik. Kita mungkin tidak akan pernah peduli bagaimana usaha penyedia transportasi publik memastikan kita aman dan selamat sampai tujuan, bagaimana mereka bersabar menghadapi kelakuan kita commuter yang sangat beragam terutama penumpang yang meresahkan, dll. 

Untuk itu, kita sebagai commuter harus bisa saling membantu. Kita harus mematuhi aturan main yang dilakukan oleh penyedia layanan. Misalnya antri saat masuk stasiun, saat tap in tap out gate, saat masuk dan keluar kereta, antri di tangga dan escalator dengan memberikan sebelah kanan untuk penumpang yang buru-buru. Selain itu, kita harus bisa menahan diri untuk tidak menghasilkan karya seni yang tidak diperlukan di sepanjang koridor transportasi publik, MRT misalnya. Karena sebaik-sebaiknya karya seni tersebut adalah sesuatu yang akan mengganggu pemandangan khalayak umum. Hal ini tentu adalah kebiasaan yang wajib kita budayakan. Untuk itu, sistem transportasi
publik kita akan maju dan bermartabat. (win) 
 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi