BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Where Justice is a Game

Kaderisasi tidak jalan, dan kepercayaan masyarak pada politisi dan Parpol rendah. Inilah alasan utama di balik perekrutan artis terkenal menjadi caleg. Para pengambil kepuyusan tampaknya sadar betul bahwa masyarakat sudah muak dengan berbagai kasus korupsi dan janji kosong para politisi.

Masyarakat pun menganggap politik sebagai arena main main.  Inilah mengapa mereka suka mencoblos artis yang rak punya rekam jejak politik sama sekali.  Mereka juga tak perduli bahwa,  swtelah terpilih, mereka tak bercara apa apa demi kepentingan rakyat. Sebaliknya mereka menghabiskan banyak duit negara untuk berbagai kegiatan yang tak jelas manfaatnya sepertu studi banding dan lain lain.

Mereka enggan memilih politisi yang telah berulang kali terbukti suka mabuk uang, popularitas,  dan kekuasaan. Sedangkan arti sudah punya uang dan popularitas. Selain itu,  para artia juga lebih enak dilihat karena ganteng atau cantik.

Semua itu menunjukkan betapa rendahnya nilai politik di mata masyarakat. Padahal, suka atau tidak, politik ruh sebuah negara. Tak ada negara bisa bertahan tanpa politik. Apa yang terjadi di arena politik selalu berpengaruh pada ekonomi, hukum, sosial,  dan budaya. Kekacauan di arena politik bahkan bisa meruntuhkan sebuah kediktatoran, demokrasi, bahkan bubarnya sebuah negara seperti telah dialami Uni Soviet dan Yugoslavia.

Politik dianggap main main bahkan sekadar alat untuk melampiaskan keserakahan pada uang dan kekuasaan. Maka tak mengherankan bila keadilan yang sangat membutuhkan. Kemauan politik dari para penyelenggara negara kian tak menentu. Ini mengingatkan pada lagu Hurricane dimana Bob Dylan melantunkan "Couldn’t help but make me feel ashamed / To live in a land / Where justice is a game". (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif