BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Waspada Produk Investasi Baru Fiktif dan Derivative

Financial institution," late 15c., Originally "money-dealer's counter or shop," from either Old Italian banca or Middle French banque (itself from the Italian word), both meaning "table," from a Germanic source (such as Old High German bank "bench, moneylender's table"), from Proto-Germanic *bankiz- "shelf," *bankon- (see bank (n.2)). The etymological notion is of the moneylender's exchange table.

As "institution for receiving and lending money" from 1620s. In games of chance, "the sum of money held by the proprietor or one who plays against the rest," by 1720. Bank holiday is from 1871, though the tradition is as old as the Bank of England. To cry all the way to the bank was coined 1956 by U.S. pianist Liberace, after a Madison Square Garden concert that was panned by critics but packed with patrons.

Kalau kembali ke istilah, 'bank' itu asalnya malah dari meja bukan kursi (bangku) dan dari bahasa Italia. Evolusi uang dari logam ke kertas melalui tahap kepercayaan masyarakat kepada bankir. Meski di Tiongkok juga sudah ada tradisi bank tapi istilah bank dan bankir mendunia dari bahasa Italia. Anthony Sampson dalam buku The Money Lenders 1980an menelusuri sejarah bankir Italia buka bank di Lombard Street London (sampai sekarang masih daerah perbankan) dan menjadi cukong, kasir dan kreditor kepada raja-raja Inggris dari pelbagai dinasti.

Jadi modal utama bank adalah uang, (logam maupun kertas). Nah, ini kan melalui pelbagai kesepakatan dan nilai uang kertas dijamin dengan cadangan emas oleh bank sentral suatu negara. Tentu saja mata uang superpower akan menjadi acuan seperti Poundsterling Inggris di abad XIX. Setelah itu Dolar AS menjadi standar dan diakui oleh Bank Dunia IMF 1945. Karena menjadi kasir dunia merangkap polisi dan godfather, Dolar AS malah akan merosot nilainya dan Amerika defisit serta harus berutang.

Karena itu Nixon membubarkan Brettton Woods pada 1971 dan menghentikan pertukaran dolar AS dengan emas. Posisi waktu itu 34 dolar AS untuk 1 ounce emas. Sejak itu muncul kekuatan mata uang Yen dan Deutsche, Mark, lalu Euro. Sesuai perkembangan moneter, Yuan Tiongkok menjadi salah satu mata uang terpercaya global di abad XXI ini.

Nah, kalau ada kesepakatan bitcoin dan blockchain di luar institusi bank sentral atau gabungan bank sentral, maka itu merupakan pemikiran diluar pakem yang harus diwaspadai. Pada akhirnya harus ada akal sehat yang mempertahankan nilai rill dan sektor riil. Karena sektor keuangan perbankan sudah beralih rupa ber tiwikrama menjadi "fiktif dan derivatif".  

Negara mencetak mata uang kertas seenak sendiri seperti Amerika Serikat yang selain mata uang juga terbitkan obligasi, sebetulnya cuma surat utang dan tidak dijamin oleh emas atau aset, modalnya cuma kepercayaan publik kepada Amerika bahwa Amerika tidak akan bangkrut meski utang berlipat kali PDB.

Jumlah valutas yang beredar di global market 10 kali lipat volume perdagangan sektor riil global. Jadi memang Bank Indonesia dan pemerintah RI harus mencermati dan mewaspadai. Tidak apa kebijakan sedikit zigzag, yang penting jangan ketinggalan zaman. Sejak dulu memang masyarakat terlalu gampang percaya objek spekulasi. Misalnya investasi sektor tulip di Belanda dulu menghasilkan krisis tulip-mania, semua orang investasi di bunga tulip akhirnya bangkrut. Ada lagi gejala main tabrak saham akhirnya depresi 1929 dan setelah itu krisis Wall Street zaman 1980an dengan film terkenal Wall Street, dan diakhiri dengan krismon 1998 di Asia Timur dan 2008 di Amerika.

Pesan kepada publik, waspada pada ilmu tuyul. Terutama produk investasi baru fiktif dan derivative. Semua itu basisnya adalah onzi atau penggandaaan uang atau arisan umroh, yang akhirnya tidak bisa menciptakan profit dan nilai tambah, tapi digelapkan dan dikorupsi. Setoran umroh atau investasi derivative atau bitcoin atau apa saja akan lenyap seperti banyak dana masyarakat yang telanjur ikut segala mania, dari tulip-mania sampai bitcoin mania. Pesan PDBI: WASPADA BITCOIN TUYUL MODERN MODEL PONZI KLASIK.

Betul governance-nya harus lebih canggih dari pemain untuk menjaga kepentingan dan keamanan stakeholders. Silakan pakai digital system.Yang jadi masalah ialah kemajuan digital yang quantum leap tidak diimbangi transformasi moral etika manusia yang menguras bank dan investor dengan tuyul modern. Jadi kita harus menjinakkan monster digital.(pso)

 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional