BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Energy Centre
Wajar Terjadi Kelesuan dalam Masa Transisi

Skema apapun selalu memunculkan pro-kontra. Negara kita sudah menjalani tahunan pengalaman cost recovery, sehingga positif dan negatif sudah cukup dikuasai. Masalah yang kurang tersosialisasi, benarkah kelemahan-kelemahan dari cost recovery itu sifatnya absolut dan final sehingga harus berganti skema. Gross split ini adalah skema baru, semuanya masih di atas kertas dengan segala positif maupun negatifnya. Tetap terbuka kemungkinan bahwa gross split bisa lebih baik, atau sebaliknya. Waktu yang akan menunjukkan mana yang lebih pas bagi Indonesia.

Pandangan pengamat pada umumnya menyatakan bahwa gross split sudah baik untuk operasi produksi, namun berpotensi menyulitkan dalam hal eksplorasi. Ini sudah terlihat dari sepinya peminat lelang WK setelah skema gross split diberlakukan.

Namun demikian, ada baiknya juga kita melihat potensi kelemahan gross split yang sudah bisa dideteksi sejak awal.

Ada kepercayaan dari ESDM bahwa ketika cost dibebankan kepada KKKS, maka mereka cenderung menghemat pengeluaran. Pertanyaannya, apakah penghematan itu akan menjadi kontribusi kepada negara?

Apapun skema yang digunakan, selayaknya cara pandangnya adalah "semaksimal mungkin memberi keuntungan bagi negara". Seluruh unsur penerimaan negara yang terlibat dalam kegiatan industri migas harus ditinjau secara komprehensif, tidak bisa hanya parsial penerimaan migasnya saja.

Misalnya dilihat dari kegiatan operasional dan keuangan KKKS. Pertama, potensi berkurangnya penerimaan supporting industri dalam negeri jika KKKS menggunakan berbagai jasa yang disediakan oleh perusahaan subsidiary maupun afiliasinya dari negerinya sendiri.

Kedua, harga jasa yang harus dibayar oleh KKKS kepada perusahaan-perusahaan subsidiary/afiliasi berpotensi untuk meningkat. Bukan malah menghemat biaya, malah semakin memboroskan biaya operasional KKKS. Dampaknya, penerimaan pajak penghasilan dari KKKS bisa berpotensi terjun bebas.

Selain perbandingan langsung (faktor internal) antara kedua skema, faktor lain yang juga mempengaruhi adalah iklim ekonomi politik dan manajemen pemerintahan di Indonesia. Jika kondisinya ke depan semakin membaik, maka kebijakan gross split akan terbantu. Jika sebaliknya, bisa saja semakin terpuruk. Dan bukan tidak mungkin terpaksa kembali ke skema cost recovery.

Bagaimanapun, perlu ada upaya dalam masa transisi dari cost recovery menuju gross split. Skema gross split harus terus menerus disempurnakan (awal september diterbitkan delapan insentif tambahan lewat Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 52 Tahun 2017 tentang "Perubahan atas Permen ESDM Nomor 08 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split"), segala dampak yang dapat mengancam keberlangsungan supply migas wajib diantisipasi.

Untuk menyangga produksi migas, mau tak mau Pertamina harus bekerja keras menyediakan supply, antara lain bisa diperoleh dengan mengaktifkan ladang-ladang sumur (tua) yang non-aktif, jumlahnya ditengarai mencapai belasan ribu sumur. Penggunaan teknologi seperti EOR (Enhanced Oil Recovery) harus diintensifkan, dan dikembangkan terus agar mencapai tingkat efisiensi setinggi mungkin. Dengan situasi ini diharap Pertamina juga semakin berbenah dan semakin efisien. Tentunya, dari waktu ke waktu penyempurnaan skema gross split diharapkan berkembang baik, sehingga menjadi skema yang lebih menarik bagi KKKS.

JIka lelang blok migas jauh dari harapan, maka kita percayakan kepada Kementerian ESDM untuk mengantisipasi situasi tersebut. Wajarnya akan diterbitkan lagi berbagai insentif untuk menarik pihak KKKS untuk mengikuti lelang. Sampai suatu saat, jika keadaan tidak berubah, ada kemungkinan dimunculkan skema baru yang lebih menarik, atau mungkin juga kembali ke cost recovery, namun tentunya dengan berbagai penyempurnaan. Dalam masa transisi ini, wajar terjadi kelesuan industri migas, asal tidak terlalu lama.

Komitmen pemerintahan yang sekarang untuk menyederhanakan berbagai proses perijinan, diharapkan dapat memperbaiki iklim bisnis. Semua pihak harus bekerja keras memperbaiki cara kerja masing-masing, sehingga gerak bersama ini akan menghasilkan outcome yang signifikan ke depan. (pso)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif