BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Film
Wajah Hollywood Takkan Sekejap Berubah

"Hollywood Jadi Pro Perempuan, Sesaat atau Selamanya?" pertanyaan menarik. Termasuk bagi kita yang nyatanya, tinggal di Indonesia yang berjarak separuh bumi dengan Amerika. Film-film Hollywood yang kita saksikan telah memberi kita ilusi bahwa kita "dekat" dengan Amerika, bahwa kita mengenal para pesohor di sana, seolah-olah Los Angeles bisa kita singgahi dengan naik commuter line dari stasiun Tanah Abang. Sehebat itu ilusi yang telah diciptakan oleh Hollywood, bahwa seluruh manusia di muka bumi ini peduli akan keberadaan mereka. 

Tetapi, sebelum jawab pertanyaan pembuka paragraf ini, ada baiknya kita tak cepat lupa pada yang terjadi di Hollywood setahun lalu, yakni tentang #OscarSoWhite--atau "Hollywood Perlu untuk Menjadi Pro Kulit Hitam, Sesaat atau Selamanya?"

Tahun lalu para seniman Hollywood kecewa berat dan protes kurangnya representasi sineas kulit hitam di ajang Academy Awards. Setahun kemudian (sekarang), rilis Black Panther, film superhero Marvel tampil dengan tokoh-tokoh yang kebanyakan berkulit hitam, memecahkan banyak rekor box office baik di AS dan dunia. Apa film Black Panther imbas protes #OscarSoWhite ? 

Tentu bukan. Ada tidak adanya protes tersebut, Black Panther tetap dibuat sesuai rencana oleh Studio Marvel/Disney. Tetapi, sukses Black Panther, sedikit banyak mengubah industri perfilman di sana. Bukan karena mereka sekarang pro kulit hitam, melainkan (ironisnya) mereka baru memahami film dengan aktor-aktris berkulit hitam juga memiliki daya jual tinggi, tak kalah dengan film-film Tom Cruise (bahkan The Mummy yang dibintangi Tom Cruise bisa flop). Barangkali kelak akan lebih banyak film action dengan aktor-aktris kulit hitam yang diproduksi di Hollywood, tetapi tentu bukan film semacam Moonlight.

Kini setelah #OscarSoWhite, hadirlah "Time's Up" dan #MeToo, gerakan sosial yang memberi awareness akan praktik diskriminasi terhadap perempuan, soal upah/honor mereka yang selalu lebih rendah dari para pria, juga advokasi untuk berani bicara soal pelecehan seksual atau perbuatan tidak menyenangkan lain. Gerakan ini ditujukan bukan hanya untuk pesohor di Hollywood, tetapi seluruh sektor pekerjaan di AS. 

Jadi, apa yang kita harapkan dari gerakan pro perempuan yang kini melanda Hollywood? Lebih banyak film dengan tokoh utama perempuan? Itu akan terjadi selama film dengan tokoh perempuan menjual banyaki tiket dan menguntungkan. Agar lebih banyak lagi perempuan bekerja di belakang layar—lebih banyak lagi Petty Jenkins (sutradara Wonder Woman (2017)—red) lain yang berkarir di Hollywood? Selama mereka dapat membuktikan kemampuanya, kenapa tidak. Agar para aktris dibayar setara dengan para aktor di Hollywood? Tentu ini menjadi pekerjaan rumah para agen yang merepresentasikan mereka dalam bernegosiasi.

Permasalahan yang kini melanda Hollywood barangkali telah mengakar kuat sejak industri itu bermula seabad yang lalu, secara sistemik, yang tak mudah untuk diubah lewat satu dua kali gerakan protes. Setelah setahun, tak ada perubahan berarti dari #OscarSoWhite.

Lewat Golden Globes, Academy Awards, para pesohor di Hollywood yang peduli akan perubahan ke arah yang lebih baik memang mendapatkan tempat untuk menyuarakan aspirasi mereka. Tetapi, yang juga tak kalah penting, aspirasi mereka tak hanya didengar, tetapi direspon pemangku kepentingan di industri perfilman Hollywood.

Tahun ini Gary Oldman dapat nominasi Aktor Terbaik Oscar. Padahal ia sejak lama telah dituduh mantan istrinya melakukan KDRT. Sebuah tuduhan serius yang dikutuk keras para inisiator dan penggerak "Time's Up" dan #MeToo. Inilah hipokrisi industri hiburan Hollywood. Hipokrisi yang sama yang terjadi di Grammy Awards lalu kala U2 dan Sting bernyanyi, di saat keduanya tidak dinominasikan dalam kategori apapun, sementara Lorde dan sejumlah penyanyi perempuan lain yang dinonimasikam justru tidak diberikan panggung.

Wajah Hollywood tidak akan berubah dalam sekejap. Tetapi, segala usaha yang dilakukan para talenta perempuan, dan minoritas, di sana untuk mendapatkan perlakuan yang adil perlu didukung segala pihak, secara nyata. Bila tidak, Hollywood masih akan dipenuhi para hipokrit untuk jangka waktu yang lama. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Ekonomi 2020 Tak Janjikan Lebih Baik             Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai             Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh