BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Utang Luar Negeri dan Cadangan Devisa

Cadangan devisa merupakan salahsatu indikator yang menunjukkan ekonomi suatu negara. Cadangan devisa dikatakan aman jika dapat membiayai impor setidaknya dalam waktu tiga bulan. Selain sebagai alat pembayaran, cadangan devisa juga membantu melindungi negara dari gejolak ekonomi. Sumber cadangan devisa diperoleh di antaranya dari: ekspor, perdagangan jasa, pariwisata, utang luar negeri, hibah, pendapatan investasi.

Utang luar negeri memang merupakan salahsatu sumber dari cadangan devisa. Namun utang luar negeri bukan merupakan sumber tumpuan cadangan devisa yang baik karena ada kewajiban yang membayanginya. Utang luar negeri ini harus dibayar kembali pada masa yang akan datang, sehingga pada akhirnya utang luar negeri ini akan menggerogoti devisa juga karena pembayaran utang luar negeri menggunakan cadangan devisa.

Sumber cadangan devisa yang baik tentu saja diperoleh dari aktivitas ekspor karena tingginya aktivitas ekspor menunjukkan daya saing dan produktivitas yang tinggi dari suatu negara. Tingginya aktivitas ekspor juga akan membantu neraca perdagangan agar menjadi surplus. Aktivitas ekspor yang tinggi dengan sendirinya akan memperkuat stabilitas nilai tukar mata uang. Sumber cadangan devisa dari ekspor tidak beresiko karena merupakan pendapatan dari perdagangan barang yang tidak menimbulkan kewajiban pembayaran di masa datang, sehingga tidak akan menjadi beban cadangan devisa.

Indonesia, yang merupakan negara berkembang, memiliki masalah yang sama dengan negara-negara berkembang lainnya, yaitu kekurangan modal sebagai sumber pendanaan pembangunan. Sehingga untuk menutupi kekurangan modal dilakukan penarikan utang luar negeri. Penarikan utang luar negeri sebenarnya tidak masalah jika pengelolaannya baik dan dapat memberikan dampak yang baik bagi perekonomian.

Jenis utang luar negeri Indonesia ada dua, yaitu dalam bentuk pinjaman dan dalam bentuk surat utang. Utang luar negeri dalam bentuk surat utang tidak menimbulkan prasyarat dalam penggunaannya. Pemerintah bebas menentukan pos-pos penggunaannya. Hanya saja lebih rentan terhadap gejolak pasar sehingga risikonya lebih tinggi. Sementara utang luar negeri dalam bentuk pinjaman risikonya lebih rendah namun diikuti dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi, misalnya tujuan penggunaan utang harus sesuai dengan kesepakatan, adanya pengawasan penggunaan utang, dll. Bentuk pengawasan yang dilakukan kreditur inilah yang terkadang mengintervensi arah kebijakan pemerintah sehingga hal inilah yang harus dicermati agar tidak mengganggu kebebasan menentukan arah kebijakan sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penarikan utang luar negeri, yaitu: 1.) Utang luang negeri menimbulkan kewajiban pembayaran di masa yang akan datang, baik itu pokok pinjaman dan bunganya. Pengembalian utang luar negeri secara otomatis akan lebih besar karena ada bunga yang harus dibayarkan. Utang luar negeri ini akan berpengaruh pada keleluasaan fiskal pemerintah jika tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan pajak karena menimbulkan beban tambahan kewajiban fiskal pada pembayaran cicilan utang dan bunga utang. 2.) Komposisi utang luar negeri pemerintah saat ini didominasi oleh surat utang, sehingga setidaknya ada dua resiko yang membayanginya. Risiko yang pertama adalah resiko capital outflow dan yang kedua adalah resiko gejolak nilai tukar yang akan menganggu stabilitas ekonomi, meningkatkan total utang, dan menimbulkan berkurangnya cadangan devisa.

Ekspor merupakan tumpuan sumber cadangan devisa yang lebih baik dari utang luar negeri, karena sumber cadangan devisa yang berasal dari utang luar negeri menimbulkan berbagai resiko diantaranya stabilitas ekonomi; keterbatasan fiskal; intervensi asing terhadap arah kebijakan dalam negeri. Tingginya kinerja ekspor memberi dampak turunan yang baik bagi perekonomian. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Karena Tak Melibatkan Ahli Kesehatan             Perlu Rekayasa Kebijakan Naikkan Daya Beli             Civil Society Perlu Awasi Hitung Suara             Holding BUMN Penerbangan             Saatnya Rekonsiliasi             Klaim Prabowo-Sandi Perlu Dibuktikan             Perlu Sikap Kesatria Merespons Kekalahan Pilpres             KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha