BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Utang Lebih Baik ke Pasar Keuangan

Kadang memang kita tidak tahu apa motivasi negara pemberi utang. Dulu ketika periode pak Harto ada adagium bahwa dalam setiap utang yang terjadi itu selalu ada penjajahan ekonomi.  

Pada periode sebelum Indonesia punya pasar obligasi, Indonesia berutang secara bilateral dan multilateral. Utang itu biasanya mengandung conditionality atau syarat-syarat yang menyebabkan kita tidak leluasa dalam menggunakan utang tersebut. Contohnya dulu kita utang inkind bentuknya atau dalam bentuk barang. Misalnya ketika Jepang hendak membantu Indonesia memberikan pinjaman, maka membantunya dalam bentuk barang atau dikatakan membantu dalam bentuk teknologi, padahal teknologi yang diberikan mungkin teknologi yang sudah usang.

Akibatnya Indonesia tidak punya keleluasaan dalam pengelolaan utang, sementara Indonesia membayar dalam bentuk uang cash kepada jepang.

Banyak utang-utang yang dikaitkan dengan proyek-proyek strategis. Kalau China memberi utang kepada negara-negara di Afrika, Srilanka kebanyakan mereka membangun infratruktur, padahal mungkin kemampuan membayarnya tidak diketahui atau agak terbatas. Tetapi sekarang tergantung kepada negara bersangkutan, apakah mau menerima conditionality yang ditetapkan.

Kalau ditarik perumpamaan secara pribadi tentu kita ingin bahwa pinjaman itu aman dengan syarat-syarat tertentu yang menurut kita hal itu wajar. Tetapi itu sangat tergantung pada negara masing-masing.

Indonesia pasca krisis 1997-1998 mulai menerbitkan obligasi melalui pasar komersial di tahun 2003. Tentu ada plus minusnya dibanding utang dalam bentuk unilateral ataupun multilateral. Utang unilateral dan multilateral biasanya memang berbunga murah. Waktu jatuh tempo nya juga lebih panjang.

Berbeda dengan IMF yang akan memberi bantuan utang ketika kita dinilai sedang kesulitan neraca pembayaran. Kalau tidak sulit maka tidak diberi. Kalau World Bank itu seperti bank umum, artinya bisa dicairkan misalnya ketika kita hendak membangun infrastruktur dan dengan bunga rendah.

Hegemoni negara maju memang sedikit banyak bisa dikaitkan dengan isu utang. Negara-negara emerging countries atau negara berkembang  itu biasanya tidak punya tabungan. Atau jika ada tapi tabungannya rendah untuk membiayai investasi. Itu yang seharusnya dihindari. Tabungan rendah karena pendapatannya juga rendah. Negara berkembang seperti di Afrika itu memang punya sumber daya alam yang bisa diolah dan mereka punya teknologinya, tapi pertanyaannya, yang bisa menikmati hasil sumber daya alam itu masih dipertanyakan. Kalau bicara GDP per kapita misalnya 4.000 dolar AS atau sekitar Rp 4 jutaan, itu berarti seolah-olah sebatas UMP semua. Padahal ada yang pendapatannya 4 juta dolar AS. Mereka yang memiliki pendapatan sebesar itu biasanya mereka yang menguasai sumber daya alam. Hal itu terlihat dari data perbankan mereka yang punya tabungan di atas Rp2 miliar misalnya, itu jumlah rekeningnya sedikit. Jumlah rekening sedikit, tapi uangnya banyak.

Jadi kalau bicara tabung nasional rata-rata memang rendah karena PDB per kapita kita masih seperti itu. Hal itu terjadi juga di semua negara.

Jika kita hendak investasi tapi tidak punya cukup dana, maka mau tidak mau akan mencari pinjaman. Tetapi pinjaman itu seperti tadi disebutkan, ada kecenderungan conditionality. Di situ sebagai negara kita harus pandai-pandai mengevaluasi mau diterima atau tidak. Jika menolak, maka harus mencari di pasar internasional. Kelemahannya, pinjaman di pasar internasional pasti bunganya akan lebih tinggi dan tidak ada alasan untuk tidak membayar atau default.

Kalau meminjam dengan negara lain memang cenderung ada moral hazard, jika gagal bayar atau default itu masih bisa dinego, misalnya. Tetapi jika dengan pasar internasional itu tidak bisa.

Penilaian kami, apa yang terjadi saat ini kuncinya sebenarnya pada tabungan nasional. Kita tidak punya tabungan nasional yang cukup tinggi dan cadangan devisa kita memang terbatas. Tetapi itu memang umum terjadi di negara-negara emerging market.

Jadi memang isu utang sering dikaitkan dengan penjajahan secara ekonomi. Tapi Amerika itu adalah negara yang utangnya paling banyak di dunia terhadap negara lain. Namun, utangnya dalam bentuk utang yang diambil dari market, jadi tidak bisa dijajah. Tabungan mereka juga rendah. Orang Amerika rata-rata pendapatannya katakanlah 4.000 dolar AS per bulan, tetapi utangnya bisa 7 ribu sampai 8 ribu dolar AS. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF