BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
 Kepala Pusat Studi Energi UGM
Utamakan Strategi Utama Pengembangan EBT (Bagian-1)

Hendaknya jangan melihat ke kilangnya saja, sebab jauh di belakang itu yakni persoalan tatakelola energi kita yang tidak konsisten. Pertama, kita sudah punya kebijakan energi nasional tapi strategi bauran energi tidak dijalankan dengan baik sehingga akhirnya kebutuhan energi fosil tetap tinggi, dan menimbulkan tindakan tambal sulam. Akhinya pilihan kembali pada pembangunan kilang lagi. Kedua, konsep tata kelola energi tidak bisa dipisahkan dari persoalan tatakelola lingkungan dan juga kehidupan sosial kita, serta pengembangan ekonomi secara nasional. Sepertinya hal-hal itu tidak terdukung dengan baik selama ini. Sehingga ketika kita berbicara energi yang dibicarakan hanya pengembangan energi fosil bersifat cair seperti premium, pertalite dan pertamax, namun dibelakang itu kita lupa membicarakan soal energi baru dan terbarukan (EBT).

Lalu kalau kita masuk ke aspek mikro dalam pembangunan kilang, banyak sekali yang harus dilihat lebih dulu. Memang dari sisi ketahanan energi pembangunan kilang itu sangat positif, namun kebutuhan/demand bahan bakar kita ke depan harus dipetakan secara benar. Apalagi ada rencana 40 tahun ke depan akan diswift ke mobil listrik dan lain-lain, itu berarti demand bahan bakar cair akan berkurang, sementara cadangan minyak kita praktis tinggal 12 tahun lagi.  Otomatis mau tidak mau harus memilih opsi pada dua hal: impor atau kita mencari sumber-sumber baru. Reserve baru harus dicari agar bisa meningkatkan reserve minyak kita atau kita beralih ke EBT. Ihwal ada sekitar 128 cekungan dan baru sekitar 40 persen yang dieksplorasi, dalam engineering memang ada yang possible atau masih memungkinkan ada, tapi kita selama ini tidak pernah mengolah itu. Nah, kalau itu bisa dimanfaatkan maka keberadaan kilang sangat tinggi dan juga hatus diingat bauran energi kita di tahun 2025 adalah “meningkatkan porsi gas, mengurangi minyak, memaksimalkan batubara dan juga meningkatkan EBT”.

Bagi saya, tidak perlu ramai-ramai memperdebatkan kilang nya, tapi yang jelas dari sisi kedaulatan energi pengadaan kilang itu penting,  tapi apakah hal itu  sangat penting sekali dibanding rencana kita mengembangkan EBT? kalau sekarang se akan-akan pembicaraan mengenai EBT menjadi tenggelam. Saya melihat diskusi kita jadi terlalu banyak di bidang mikro tapi kita lupa bahwa dibalik itu semua kita punya rencana panjang EBT dan tatakelola energi yang perlu kita bahas.

Tetapi kita menghadapi kendala utama pengembangan EBT, pertama, mengenai  pricing policy kita yang saya pikir tidak logic. Contoh, kebijakan pemerintah untuk harga beli EBT adalah 85 persen dari HPP. Nah, kalau kita bicara di Pulau Jawa tidak mungkin EBT bisa bertarung dengan energi fosil kecuali di luar Jawa. Kemudian juga kita tidak punya skenario yang matang mengenai pengembangan EBT seperti yang terjadi di Amerika Serikat atau Uni Eropa misalnya. Di negara maju itu mereka punya yang disebut ”Renewable Portofolio Standart” (RPS) artinya, EBT itu bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah tapi juga menjadi kewajiban pengembang. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF