BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Utamakan Efisiensi BUMN Agar Punya Daya Saing Global

Indonesia--seperti banyak negara berkembang--punya tradisi ayunan pendulum sesuai irama "Perang Dingin" ketika dunia terpecah jadi blok kapitalis vs blok komunis. Tapi sekarang dikotomi kapitalis-komunis sudah tidak relevan lagi. Karena dua raksasa komunis juga sudah jadi kapitalis, yaitu Uni Soviet dan Tiongkok.

Seluruh dunia jadi kapitalis. termasuk Korea Utara. Tapi Kim Jong Un hanya menjual rudal dan bukan Samsung. Karena memang keunggulan otak mereka adalah membuat rudal nuklir yang laku dijual di Timur Tengah ketimbang jualan Samsung, karena sudah tertinggal oleh Chaebol Korea. Jadi masalah siapa yang menjadi lokomotif pembangunan korporasi nasional, Zaibatzu Chaebol swasta atau BUMN seperti Posco atau MNC yang investasi di Korea atau Indonesia, sebetulnya tidak perlu jadi masalah.

Pada zaman Belanda PLN adalah swasta, namanya NV Aniem, kenapa bagus kinerjanya? Setelah jadi perusahaan negara/BUMN diberi slogan muluk tapi kinerja pelayanannya memble. Efisiensi itu general universal. Efisien ya efisien, tidak ada efisien model Mugabe atau model Trump. Kalau tidak deliver ya akan digusur seperti Mugabe. Jadi efisiensi BUMN Indonesia harus selalu dibandingkan secara empiris, peer evaluation dengan BUMN sejenis dan setara di luar negeri. Kenapa BUMN sejenis dan setara di luar negeri bisa berkinerja bagus--misalnya seperti POSCO yang menguasai pangsa pasar besi baja global, padahal Korea Selatan tidak punya sumber daya mentahnya?

Mengapa harus PT Inalum yang menjadi induk holding padahal kinerja keuangan Inalum tidak lebih baik dari ketiga BUMN tambang yang akan dimerger? Inalum atau siapa yang jadi induk, what is in a name, yang penting kinerjanya harus mampu menghadapi tantangan domestik maupun global. Sekarang tidak bisa lagi main proteksi model 'Trump achterlijk'. Harus siap bertempur di pasar yang sudah dibuka lebar oleh semua forum, termasuk WTO.

Dalam pilihan strateginya apakah mengefisienkan lebih dulu kinerja keuangan, atau dimerger dulu lalu diadakan efisiensi? Ya konsolidasi internal terus sinergi eksternal. Holding bisa sektoral, bisa juga berupa konglomerasi seperti usulan PDBI bahwa Indonesia mungkin perlu 4 "Temasek". Seluruh BUMN yang 120 itu dibagi dalam 4 "Super Temasek" (namanya super tapi ukuran pasti jauh di bawah Temasek) yang mencapai 100 miliar dolar AS dan GSIC 200 miliar dolar AS harus bersaing. Seperti Mitsui bersaing dengan Mitsubishi, Sumitomo, Marubeni, Itochu, dan seterusnya. Samsung dengan Hyundai dan seterusnya. Jadi tidak manja ketika diberi monopoli tapi tidak mampu memberi service kepada konsumen dan menguntungkan negara dengan laba dan setor dividen.

Dalam kaitan dengan divestasi 51 persen saham Freeport, apakah mungkin terlaksana setelah merger BUMN tambang? Resep PDBI itu ya membangun 4 "Super Temasek". Tetapi negara jika mau bikin super holding sektoral, ya terserah birokrat yang berkuasa. PDBI kan mempelajari sejarah empiris historis bukan cuma lokal tapi perbandingan dengan kebangkitan ekonomi Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Rekomendasi saya agar BUMN Indonesia lebih berdaya saing menuju world class company, mungkin kombinasi merger konsolidasi sektoral gagasan kementerian BUMN dan usulan merger tuntas sinergi 120 BUMN dalam 4 "Super Temasek". Monggo dikaji. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan