BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM
Upaya Sekerasnya Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Konsep ukuran perkembangan kesejahteraan negara-negara di dunia yang paling populer adalah pendapatan per kapita (GDP per capita) sehingga menjadi dasar klasifikasi negara-negara menjadi: negara-negara pendapatan rendah (low income), negara-negara pendapatan menengah (middle income), dan negara-negara pendapatan tinggi (high income). Di dalam kelompok negara-negara pendapat menengah dibagi lagi menjadi sub-kelompok negara-negara pendapatan menengah atas (middle-upper) dan menengah bawah (middle-lower). Angka pemisah yaitu GDP per kapita tiap kelompok dan sub-kelompok digariskan tiap tahun oleh The World Bank sebagai rujukan banyak pihak di dunia. Pada tahun fiskal 2019, menurut The World Bank, kelompok negara pendapatan rendah adalah kurang dari 995 dolar AS, negara pendapatan menengah rendah antara 996 dolar AS hingga 3.895 dolar AS, negara pendapatan menengah atas antara 3.896 dolar AS hingga 12.055 dolar AS, dan negara berpendapatan tinggi di atas 12.055 dolar AS. Menurut The World Bank pada tahun 2017, Indonesia memiliki GDP per kapita sebesar 3.847 dolar AS, termasuk dalam kelompok negara-negara pendapatan menengah bawah yang paling atas. GDP per kapita Indonesia harus bertambah 8208 dolar AS agar masuk dalam kategori negara-negara pendapatan tinggi.

Konsep tersebut di atas menjadi asal muasal istilah middle-income trap. Apabila suatu negara tidak pernah bisa mencapai garis bawah kelompok negara-negara pendapatan tinggi atau GDP per kapita lebih besar dari 12.055 dolar AS maka selamanya akan terjebak dalam kelompok negara-negara pendapatan menengah.

Meningkatkan angka GDP per kapita bisa dikendalikan dari rumus perhitungannya yaitu komponen pembilang atau komponen penyebutnya. Pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan komponen pembilang sehingga ada sejumlah besar GDP untuk dibagi oleh komponen penyebut yang merupakan populasi penduduk suatu negara. Namun mengendalikan pertambahan populasi penduduk juga dapat meningkatkan angka GDP per kapita. Jepang diprediksikan akan mengalami penyusutan populasi penduduk dalam 10-20 tahun ke depan. Apabila besaran GDP Jepang tidak menurun maka angka GDP per kapita Jepang dipastikan akan meningkat.

Saat ini fokus pemerintah Indonesia dalam upaya menghindari middle-income trap adalah memperbesar angka GDP melalui pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan setidaknya 7 persen per tahun. Namun dengan memperhatikan rumusan perhitungan GDP per kapita maka tingkat pertumbuhan penduduk harus dijaga agar tidak melonjak. Dalam hal ini, peran BKKBN menjadi krusial agar tingkat kelahiran dapat terkendali melalui program Keluarga Berencana dengan target TFR (Target Fertility Rate) sebesar 2,1 pada tahun 2025. Pemerintah perlu mendukung sosialisasi dan implementasi program Keluarga Berencana pada generasi milenial sehingga populasi penduduk Indonesia dapat terkendali.

Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berujung pada peningkatan GDP Indonesia, tidak ada resep manjur selain meningkatkan investasi, konsumsi dalam negeri, pengeluaran pemerintah dan menjaga surplus ekspor-impor. Meningkatkan investasi sudah sering dibahas, yaitu membuat Indonesia semakin menarik bagi investor agar mau menanam modal untuk buka usaha melalui regulasi yang sederhana dan cepat, adanya kepastian hukum, iklim sosial politik yang kondusif serta insentif fiskal yang menarik.

Sekarang tinggal bagaimana konsistensi implementasi semua hal tersebut dan apakah dapat segera diatasi hambatan-hambatan yang ada? Demikian seterusnya untuk peningkatan ekspor agar tidak menjadi negatif karena impor yang lebih banyak, maka segala regulasi dan kebijakan pemerintah mendorong ekspor harus efektif. Salah satu upaya nyata peningkatan pertumbuhan ekonomi adalah pembangunan industri manufaktur di luar Jawa untuk memberi nilai tambah terhadap berbagai komoditas atau bahan mentah sumber daya alam yang berorientasi ekspor. Bagaimana kebijakan dan regulasi pemerintah yang konsisten dan didukung segenap pemangku kepentingan untuk program pembangunan manufaktur di luar Jawa berikut infrastruktur pendukungnya menjadi kunci keberhasilannya.

Dipercaya, bahwa banyak pihak di Indonesia sudah mafhum akan semua faktor determinan terkait peningkatan GDP namun memang tidak mudah implementasinya karena ada begitu banyak kepentingan (interest) yang tidak jarang bersilang dan menuntut diprioritaskan dengan sekian banyak alasan pembenarnya. Adalah peran dan niat para negarawan dan pemimpin negeri ini yang sesungguhnya menjadi faktor kunci apakah Indonesia akan lolos dari middle-income trap ? (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Anang Zubaidy, SH., MH

Kepala Pusat Studi Hukum FH UII

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

FOLLOW US

KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha             Tunggu, Mas             Yang Tak Siap Menang Cuma Elit Politik, Rakyat Tenang Saja             Ikhtiar Berat Tegakan Integritas Pemilu             Kedaulatan Rakyat Dibayang-bayangi Money Politics             Tiap Orang Punya Peran Awasi Pemilu             Jangan Lecehkan Kedaulatan Rakyat             Selesaikan Dulu Sengkarut Harga Tiket Pesawat