BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta
Upaya Pemihakan Perbankan terhadap Ekonomi Rakyat

Sebenarnya KUR dari dulu memang efektif karena dia sektor riil. Itulah salah bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan ekonomi sektor riil. Perbankan nasional selama ini lebih banyak bermain di ‘atas angin’ atau jual beli valas. Padaha sektor riil itu adalah sektor yang menjanjikan karena orang memang perlu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar sandang, pangan, papan. Hal itulah yang harus dilakukan dengan membangun kekuatan  dengan skema KUR. Jika di negara lain saja sebagai contoh subsidi terhadap sektor pertanian dan sektor sembako (sandang pangan toko) serius sekali diberikan. 

Sayangnya kalau di Indonesia sektor kerakyatan itu tidak begitu dilindungi. Malah kebijakan yang diambil terlalu pro terhadap sektor menengah ke atas. UMKM tidak begitu diperhatikan bahkan dipandang hanya menjadi hal yang ‘ribet’ urusannya. Padahal UMKM sudah lama berhasil dan tahan guncangan.

Ihwal krisis mata uang, yang saya tahu KUR mau dikurangi plafon kreditnya, mungkin tidak lagi Rp25 juta tapi jadi Rp15 juta, misalnya. Perbankan menaikkan sukubunga tapi menurunkan nominal plafon kredit KUR.

Sekarang menurut saya pemerintah memang harus berpihak pada pembangunan sektor ekonomi kerakyatan baik sektor pertanian, perikanan, kehutanan, UMKM dan lainnya. Itu yang harus diutamakan. Sandang pangan papan itu harus diupayakan supaya berswasembada dan ‘swasembako’. Amat mengecewakan jika pemerintah selalu main di sektor ekonomi menengah atas.

Kebehasilan Fintech karena dia masuk ke sektor riil. Bukan main valas dan sebagainya. Mereka yang bermain valas dan portofolio itu tidak lebih dari para pelaku ekonomi kelas atas yang bahkan kadang bertindak sebagai spekulan mata uang. Tidak mau berkeringat.

Seharusnya jika perbankan ada komitmen terhadap sektor riil sebagai salah satu instrumen ekonomi maka semestinya langkah-langkah perbankan terlihat ke arah dukungan kepada sektor riil. Tapi kenyatannya tidak terjadi. Bahkan dengan egoisme bank malah menyelamatkan diri sendiri.

Sekarang harus lebih disempurnakan skema KUR yang nampak memberi harapan. Mekanismenya jangan lalu seperti KUD. Saat ini sudah harus ada semacam fasilitator. Seperti yang saya tahu sekarang dilakukan oleh salah satu bank nasional.

Bank tersebut bertindak sebagai mediator/obstecker yang memfasilitasi pemberian kredit kepada petani. Misalnya petani diberikan kredit Rp25 juta oleh bank, lalu Rp10 juta dipercayakan kepada lembaga mediator/obstecker untuk digunakan/’diputar’ sebagai operasional misalnya untuk biaya distribusi hasil pertanian atau memperluas pasar produk pertanian. kedua belah pihak diuntungkan oleh sistem tersebut. Petani pun selama 3 bulan dibantu pembiayaan operasional masa tanam, juga biaya sekolah anak-anak petani. Model sepeti itu yang seharusnya dilakukan oleh perbankan nasional. Bukannya bertindak seperti pengijon atau pengepul.

Jika skema pemberdayaan seperti yang dilakukan bank tersebut, saya sangat mendukung. (pso)    

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF