BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Aktivis PIJAR & Jaringan Aktivis PRODEM
Uang dan Popularitas Tidak Menjamin Kualitas Caleg dan Parlemen

Reformasi telah melahirkan satu fenomena menarik, yakni makin banyaknya selebritas terjun di dunia politik. Yang paling terlihat adalah berbondong-bondongnya selebritas menjadi caleg legislatif (caleg), yang juga terjadi pada pemilu kali ini. Apakah selebritas yang notabene menyandang popularitas menjamin kualitas dalam diri mereka? Tepatkah pilihan popularitas menjadi andalan? Bagaimana seharusnya tanggung jawab partai politik (parpol) terkait hal ini? Isu-isu inilah yang penting untuk diangkat terkait fenomena selebritas menjadi caleg dalam pemilu.

Idealnya, seorang caleg memiliki kemampuan dan pengetahuan yang mumpuni dalam menjalankan fungsi-fungsi parlemen yakni kemampuan dan pengetahuan dalam memahami pembuatan undang-undang, politik anggaran,  serta dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang oleh pemerintah. Ketiga hal tersebut adalah syarat mutlak yang wajib dimiliki oleh para caleg dalam mengikuti kontestasi pemilu sehingga jika terpilih, mereka dapat menjalankan mandat rakyat sebaik-baiknya. 

Namun, tidak bisa ditampik, bahwa seringkali yang lebih ditonjolkan oleh parpol adalah popularitas dari para selebritas yang menjadi caleg. Adanya fenomena ini menunjukkan bahwa parpol cenderung melakukan tindakan instan, yakni mengusung selebritas yang populer tanpa melalui mekanisme internal pengkaderan yang terstruktur dan teruji. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa parpol hanya mengedepankan perolehan suara, bukan pada kapasitas dan kualitas.

Lalu apa akibat saat mereka yang minim kualitas yang dibutuhkan terpilih sebagai wakil rakyat? Tengok saja pemilu sebelumnya. Beberapa nama selebritis yang saat ini berada di parlemen tidak banyak yang muncul dalam menyuarakan aspirasi rakyat.  Banyak ketidakadilan yang terjadi di masyarakat namun mereka diam saja. Maka kini sudah saatnya parpol-parpol mulai sadar dan berbenah diri,  kembali kepada fungsi dan tugas utamanya menjadi petugas rakyat,  menjadi rumah demokrasi bagi rakyat. Parpol sejatinya melakukan kaderisasi,  edukasi,  advokasi dan membangun perekonomian rakyat. Parpol juga wajib menjamin kualitas mereka yang diajukan sebagai caleg, termasuk mereka yang berasal dari kaum selebritas.

Maka idealnya, parpol merekrut orang-orang yang memiliki pengalaman pengorganisasian yang mumpuni dan terukur seperti para aktivis,  pegiat sosial serta intelektual, yang pengalamannya dapat menjadi energi positif dan memiliki efek elektoral yang berkualitas bagi partai.  Orang-orang yang beridealisme dan berintegritas ini akan menambah nilai partai. Ini semua penting, terlebih lagi dalam situasi sekarang, di mana partai politik kurang mendapat kepercayaan dari masyarakat akibat maraknya tindak politik uang dan perilaku koruptif para wakil rakyat. 

Terkait hal ini, untuk melahirkan para caleg yang berkualitas,  para elite parpol peserta pemilu harusnya memiliki mekanisme internal yang sistematis dan terukur, yang dijalankan secara terus menerus dari level terendah hingga level tertinggi.  Kaderisasi dan edukasi terhadap para kadernya terhadap platform perjuangan partai adalah hal yang juga wajib dilakukan. Para kader yang telah diedukasi tersebut selanjutnya harus diberi ruang untuk mengaktualisasikan kemampuannya dan mengisi posisi-posisi kepengurusan partai dalam berbagai level secara berjenjang. Mereka inilah yang menjadi ujung tombak partai dalam melakukan konsolidasi dan terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk menawarkan berbagai macam program kemasyarakatan. Mereka inilah yang akan menjadi kader militan yang terorganisir,  yang akan menghasilkan suara bagi partai saat pemilu. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan