BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI
UMKM Harus Manfaatkan Digital

Menurut saya, apa yang di sampaikan oleh Presiden Jokowi di pertemuan APEC tersebut benar sekali, selama para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bisa mengambil kesempatan ini dengan baik. Harus diingat industri digital adalah sebuah infrastruktur layaknya jalan tol. Setiap orang tidak harus membangun jalan tol agar bisa menggunakan, menikmati, dan berusaha.

Tentu UMKM sangat bisa bermain dan memiliki aksesibilitas di ekonomi digital, apabila point of penetrationnya di dunia digital seperti hardware (Smartphones) affordable, software (Apps) user friendly, affordable, Language (umumnya Inggris) mudah dimengerti dan Regulation tidak melarang (seperti Google dilarang di Cina), maka pertumbuhan diperkirakan akan cepat sekali.

Jadi, dukungan pemerintah, baik berupa infrastruktur IT, bimbingan dan pelatihan, terutama regulasi yang mengarah (keberpihakan) kepada UMKM, baik dalam pengembangan produk maupun dalam hal aksesibilitas UMKM untuk bermain di digital marketing sangat dibutuhkan.

Tak kalah penting juga dukungan dan bantuan dari pihak profesional dan swasta yang memiliki kompetensi di sektor digital marketing, sehingga ketika UMKM masuk ke dunia digital, akselerasinya bisa sejajar dengan e-Commerce yang sudah lama memanfaatkan digital sebagai sarana utama pengembangan bisnis mereka.

Kalau dibilang infrastruktur teknologi (IT) kita masih ketinggalan dibandingkan negara-negara lain di ASEAN, saya kira juga tidak. Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dengan ribuan gugusan pulau yang terbentang luas, jauh lebih luas dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN, tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dengan cost yang sangat tinggi. Bisa berkali-kali lipat dari cost yang dikeluarkan oleh Singapura, maupun Malaysia ketika mereka membangun infrastruktur ITnya.

Selain itu, pembangunan infrastruktur IT sangat tergantung dari dari potensi ekonomi suatu daerah (kalau pulau terpencil dan tidak ada penduduk buat apa?), Teknologi yang tersedia (buat atau beli), siapa yang mau membangun infrastrukturnya (swasta atau BUMN), capital yang dibutuhkan (umumnya tidak sedikit), dan kesiapan aturan daerah.

Dengan adanya perusahaan-perusahaan digital yang menyediakan marketplace seperti Alibaba, Olx, Bukalapak, Tokopedia, dan yang lainnya, justru sangat membantu UMKM dalam rangka untuk mengembangkan usahanya. UMKM bisa mempromosikan dan menjual produknya tanpa biaya usaha seperti marketing, sewa tempat, maupun biaya promosi/iklan lainnya. Sehingga, biaya marketing jadi lebih murah.

Perlu diingat, bahwa Google, Gojek, Alibaba, Amazon adalah perusahaan-perusahaan yang tidak akan besar tanpa didukung oleh usaha- usaha lainnya, apakah itu perusahaan besar maupun UMKM. Karena pada dasarnya mereka adalah 'perusahaan intermediary' yang menghubungkan antara penjual dan pembeli. 

Berdasarkan info yang saya dapatkan, banyak usaha-usaha makanan UMKM yang lahir karena adanya Go-Food. Mereka buka di garasi rumah dan hanya bisa dipesan lewat Go-Food karena tidak menyediakan kursi meja untuk makan ditempat. Pemesan Go-Food paling banyak adalah dari restauran kecil kaki lima dan bukan dari restoran-restoran hotel bintang lima.

Yang merasakan terjadinya disruption atas kemunculan e-Commerce dan ekonomi digital tersebut adalah perusahaan-perusahaan besar konvensional seperti Matahari, Lotus, Barnes & Noble, Toy's r Us, Marks & Spencer dan bukan UMKM.

Kehadiran e-Commerce dan ekonomi digital ini merupakan peluang emas bagi UMKM untuk mengembangkan dan memajukan usahanya dengan ikut bermain dalam ekonomi digital, dengan memanfaatkan perusahaan-perusahaan digital sebagai partner dalam upaya promosi dan menjual produk-produk UMKM.

Jadi, tidak ada alasan bagi UMKM untuk tidak ikut bermain di ekonomi digital. Tidak perlu menunggu menjadi digital literate untuk menjadi pemain di dunia digital. Selama anda memiliki dan bisa menggunakan aplikasi di Smartphone anda, anda cukup digital literate. Masalah berikutnya hanya apakah anda yakin usaha anda bisa besar lewat dunia digital? Ini masalah utama. Pengusaha-pengusaha Old School baik besar maupun kecil umumnya tidak percaya bahwa usaha-usaha lewat digital akan berhasil. Inilah awal kematian mereka. (afd/ pso)

 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan