BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
UMKM Hanya Bisa Mengais Rezeki Kecil dari Asian Games

Bangsa Indonesia dan pemerintahnya saat ini boleh saja berbangga dan bergembira, karena pada tahun ini, dalam waktu yang hanya tinggal menghitung hari itu, perhelatan olah raga terbesar yang diberi nama Asian Games akan dilangsungkan di Jakarta dan Palembang (Sumatera Selatan). Sebagai bangsa Indonesia memang kita layak ikut berbangga, karena perhelatan olah raga sekaliber Asian Games sulit diperoleh oleh Indonesia. Buktinya, sudah lebih dari 50 tahun, setelah tahun 1962, baru kali ini  bisa terselenggara di Indonesia. Jadi, jelas ini merupakan perhelatan paling bergengsi bagi Indonesia. Makanya wajar kita berbesar hati. Namun demikian, jangan dipertanyakan apakah perhelatan akbar yang menelan biaya yang kabarnya  mencapai Rp30 triliun ini bisa membawa harapan besar bagi  bangkitnya ekonomi Indonesia, atau pada tataran paling bawah bisa meningkatkan kesejahteraan para pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan sektor kreatif lainnya?

Ups, tunggu dulu. Sekadar berharap dan bermimpi tentu boleh-boleh saja. Namun, kendatipun anggaran untuk penyelenggaraan Asian Games itu sangat besar, yang namanya rakyat kecil, UMKM serta sektor kreatif, akan tetap pada posisi awal, yakni kecil, mikro. Kendatipun ada mendapat rezeki, tetapi tidak signifikan. Mengapa?

Beberapa alasan yang membuat masyarakat kecil yang kita sebut UMKM dan sektor kreatif hanya bisa mengais rimah-rimah ( sisa makanan) dari perhelatan terbesar itu. Pertama, dari segi waktu pelaksanaan kegiatan olah raga tersebut, waktunya sangat singkat. Kedua,  dari jumlah atlit yang datang, kendatipun mendatangkan ribuan atlit dari luar negeri, berapa besar uang dan waktu yang akan mereka habiskan untuk belanja barang-barang produksi UMKM kita yang nilai barangnya juga kecil? Apalagi, mereka datang ke perhelatan tersebut terkonsentrasi untuk membawa piala atau tropi yang besar untuk Negara mereka, bukan belanjaan. Ke tiga, dilihat dari jenis barang atu produk kreatif yang dijajakan yang harganya mungkin kacangan, kita akan bertanya berapa harga atau nilai barang yang berupa souvenir itu bisa meraup untung?

Jujur saja, ketika kita menerka  dampak positif perhelatan olah raga bergengsi ini terhadap bangkitnya gairah berusaha para pelaku UMKM dan dampak bangkitnya rupiah, tampaknya sulit diraih, karena tidak berdampak sangat siginifikan. Keuntungan besar tetap ada, tetapi bukan untuk rakyat kecil. Lalu siapa yang memperoleh rezeki besar? Pertama, nikmat pembangunan fasilitas olah raga tuan rumah, yakni Jakarta dan Palembang. Kedua, tentu menguntungkan orang-orang besar, perusahaan-perusahaan besar yang mengelola proyek besar untuk menyediakan berbagai fasilitas dan kebutuhan perhelatan Asian Games. Sementara orang kecil yang hanya menjalankan usaha kecil, UMKM yang bermodal kecil, mereka  hanya bisa mengais rimah-rimahnya. Artinya hanya bisa memanfaatkan sedikit peluang untuk menjual hasil usaha. Apalagi yang namanya UMKM sekelas PKL yang akan selalu tergusur dari kepentingan besar. Mereka bisa-bisa hanya gigit jari, karena dikejar dan digusur untuk menjaga marwah bangsa. Bahkan, kalau di Aceh ada pepatah begini, "Buya Krueng teudong-dong, buya tamoeng yang meuraseuki”. Ya, bahkan banyak yang jadi penonton saja.(pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional