BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Tumbuhkan Kembali Peminatan pada Matematika dan Sains

Negara yang sulit untuk keluar dari middle income trap memang menjadi masalah bagi Negara kelompok pendapatan menengah, jika dia tidak mampu melesat ke atas. Itu disebut dengan middle income trap. 

Hal-hal yang membuat negara itu tidak mampu menembus sampai ke upper level dan hanya berkutat di situ-situ saja itu karena tidak menguasai teknologi. Jadi kuncinya sebetulnya di SDM. SDM seharusnya mampu menciptakan teknologi. Mampu menciptakan juga inovasi, dan bukan hanya sebagai user. 

Indonesia dan beberapa yang negara “berada” dalam middle income trap, bersumber pada masalah mereka tidak bisa menembus teknologi. 

Korea Selatan adalah salah satu Negara yang bisa keluar dari middle income trap. Padahal Korea Selatan tumbuh bersama-sama dengan Indonesia ketika mendapatkan kemerdekaan, lalu juga terkena krisis yang sama pada 1997-1998, tapi kemudian dia melesat pada tahun 2000 an langsung menciptakan teknologi. Masuk ke industri otomotif, teknologi digital. Mereka juga berhasil “menggaet” android ke dalam gadget Samsung, lalu membuat android di seluruh dunia. Dari itu semua Korea Selatan bisa keluar dari middle income trap dan sekarang menjadi Upper Level Group.

Malaysia juga boleh dibilang sudah ke level atas atau middle upper, tetapi masih belum berhasil menciptakan teknologi. Memang Malaysia pernah merencanakan satu daerah menjadi “Silicon Valley” nya Asia, sayang tidak terlalu berhasil. 

Gagalnya itu mungkin yang menciptakan teknologinya bukan orang Malaysia sendiri. Berbeda dengan Korea Selatan, mereka sendiri yang menciptakan teknologi. 

Singapura sekarang sedang berjuang untuk bisa lolos dari middle income trap dengan berusaha menciptakan teknologi sendiri yang berasal dari China seperti mengembangkan gadget Huawei, Xiaomi dan lain-lain. Tapi itupun masih berat, sehingga Singapura belum dibisa disebut sudah keluar dari middle income trap.

Jadi syarat supaya bisa keluar dari middle income trap, SDM nya harus kompeten. Tidak sekadar SDM yang berkualitas tapi SDM yang bisa menguasai dan menciptakan teknologi.

Rasanya, kalau melihat karakteristik SDM kita maka masih butuh waktu lama untuk bisa mendorong SDM-SDM yang bisa menciptakan teknologi. Bukan berarti tidak ada, tetapi untuk sekarang barangkali masih butuh waktu dengan basis sekarang yang kita punya. IPM Indonesiapun masih di bawah rata-rata dunia. 

Itu sebabnya salah satu platform ekonomi pak Jokowi pada periode yang akan datang jika terpilih kembali adalah fokus pada peningkatan kualitas SDM dan Indeks Pembangunan Manusia yang kiranya menjadi urgensi Indonesia kalau Indonesia tidak mau terjebak dalam istilah middle income trap

Untuk mengejar ambisi menembus 5 besar dunia pada tahun 2030 income Indonesia sudah harus mencapai high level, apakah cukup waktu dengan sisa 10 tahun lagi? 

Mengejar itu harus dengan basic teknologi yang kuat. Penguasaan teknologi sejak sekarang harus diperkuat kembali melalui peningkatan pemahaman mata pelajaran matematika sejak dini. Ironisnya yang terjadi sekarang adalah anak-anak kita semakin menjauh dari matematika. Mereka sekarang lebih suka mengambil jurusan IPS. Masuk jurusan IPA juga harus dipaksa oleh orang tuanya. 

Jadi sekarang penting untuk kembali membuat anak-anak kita menjadi kembali suka dan paham matematika. Karena kalau menciptakan teknologi harus bisa bahasa matematika, atau bahasa numeric.

Menyadari hal itu rasanya pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah, dan tidak usah dulu bermuluk-muluk untuk menciptakan teknologi. Tapi minimal kita punya program di mana bidang studi science murni seperti matematika, fisika, kimia, biologi itu “dilindungi” pemerintah.

Pemerintah bisa memberikan subsidi yang lebih besar untuk bidang studi science murni seperti itu. Kalau dulu Indonesia punya BPPT. Sebuah lembaga think tank untuk menciptakan teknologi. Tetapi pasca reformasi BPPT relatif sudah berkurang banyak perannya. BPPT itu mungkin bisa ditumbuhkan kembali dan teman-teman yang mempunyai semangat keilmuan yang “science” bisa kembali dikumpulkan dan tentu saja remunerasinya juga harus sebanding dan memadai, sehingga mereka juga mau karena ada insentif yang diberikan untuk kembali bergiat dibidang penemuan-penemuan baru. Karena kalau tidak maka Indonesia ke depan tidak akan punya orang-orang berkualitas seperti itu dalam satu think tank teknologi. 

Kalau ditanya kita harus berkiblat ke negara mana untuk acuan teknologi, saya tidak tahu apakah harus ke Jerman, Jepang atau kemana. Tapi yang saya pahami orang Korea Selatan itu banyak yang tidak bisa bahasa Inggris, tapi mengapa bisa mereka menciptakan teknologi. 

Di Korea ada lembaga bahasa yang mentranslate buku-buku yang berbahasa Inggris ke bahasa Korea. Jadi buku-buku mereka merupakan hasil terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Korea. 

Saya juga tidak tahu Korea sebenarnya berkiblat kemana dalam teknologi, tapi buktinya mereka bisa menciptakan android. Indonesia tidak usah terlalu muluk harus berkiblat ke Jerman misalnya, karena sekarang Asia sudah cukup untuk menjadi kiblat teknologi.

Begtu pula dengan Negara Jepang yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi mereka bisa menciptakan teknologi. Hal yang sama juga terjadi pada Negara China dan mereka juga bisa menemukan teknologi. 

Jadi faktor bahasa tidak bisa dijadikan hambatan dalam menggapai teknologi. 

Harus ada keberpihakan pemerintah dengan dana APBN 20 persen untuk pendidikan. Barangkali perlu dipertimbangkan ada sekelompok anak yang dilatih sedari awal, dibina, dikembangkan jika dia mempunyai minat yang tinggi terhadap matematika dan science, maka mereka bisa dibina dalam sebuah kelas khusus.

Sekarang bagaimana mengupayakan kembali peminatan anak-anak terhadap mata pelajaran science khususnya matematika. Karena matematika mengajarkan bagaimana berpikir logis. Saya juga tidak tahu kenapa anak-anak kita sekarang jadi tidak suka dengan matematika. Padahal dulu sempat ada upaya membangkitkan budaya senang kepada matematika untuk anak, tapi sayangnya hal itu tidak kontinyu dilakukan. 

Dulu ada Prof Yohanes Surya seorang ahli fisika yang mengupayakan bahwa pelajaran fisika itu menyenangkan. Bahkan dia pergi ke Papua untuk mengajarkan anak-anak Papua, sayangnya sekarang beliau tidak pernah lagi muncul. 

Orang-orang seperti Prof Yohanes Surya itu perlu dijaga karena tidak banyak orang seperti dia. Orang-orang seperti beliau harus diberi ruang untuk berkembang. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan