BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Tuhan Infiniti Zero vs Gelombang Soejatmoko

Antara 1980-1987, Soedjatmoko menjabat Rektor United Nations University, membahas grand theory tiga gelombang peradaban manusia oleh Alvin Toffler. Manusia hidup di gelombang pertanian puluhan ribu tahun, dan baru pada 2500 tahun terakhir--sejak James Watt menemukan mesin uap, manusia mengalami gelombang kedua industrialisasi melalui Revolusi Industri 1.0. Setelah itu pada perempat terakhir abad 20 manusia memasuki Gelombang Ketiga era teknologi informasi. Soedjatmoko wafat 1989, setelah menyaksikan tank Tiananmen melindas mahasiswa pada Juni 1989.

Tahun 2005 kolumnis Thomas Friedman menulis di The New York Times bahwa dalam perkembangan peradaban, khususnya agama, timbul mazhab kronologis dengan menempatkan Yahudi sebagai agama versi God 1.0. Konsekuensi logisnya, Katolik/ Kristen menjadi God 2.0, dan Islam menjadi God 3.0. 

Pandangan simplistis dari Tom Friedman tentu menimbulkan reaksi; di mana posisi Hindu dan Budha? Kriteria Tom itu jelas hanya terpaku pada agama samawi (Abrahamic). Hindu bisa mengklaim sebagai God 0.0, kemudian ada Budha--sebelum Katolik dan setelah Islam, gereja mengalami Reformasi 1517 yang dahsyat yang bisa dianggap God 4.0. Sementara itu di kalangan ekonom, terutama Mazhab Davos, muncul analisis tentang transformasi manusia dan industri dalam 4 tahap. Setelah James Watt (RI 1.0), Thomas Edison (RI 2.0), dan IT akhir abad 20 (era RI 3.0),  sekarang menuju Artificial Intelligens ( AI) atau RI 4.0.

Nah, kalau kembali ke basis gelombang peradaban manusia, maka pada era pertanian, agama masih dominan. Pada era industrialisasi diperlukan state and corporte governance, untuk mengelola aset fisik dan tangible (teraba). Maka elite birokrasi dan korporasi mendominasi era gelombang kedua itu. Sedang Gelombang ketiga, dengan IT yang semakin canggih, sudah memasuki RI 4.0. Maka super empowered individual bisa melejit seperti Steve Jobs, Jack Ma, Jeff Bezos, dan Nadiem Makarim.

Maka teologi juga harus berubah. Teologi kuno God 1.0 sampai 3.0 adalah teologi gelombang pertanian yang ketinggalan zaman. Tuhan tidak bisa dibatasi oleh agama samawi kuno, termasuk Hindu-Budha. Tuhan seharusnya bebas dari monopoli "agama 1.0-3.0”. Tuhan adalah Infinite Zero sudah mendahului zaman dan akan memimpin zaman masa depan kapanpun. 

Manusia yang harus mengakui keterbatasan, dan menerima perkembangan zaman secara kreatif. Jangan terjebak dalam mazhab teologi primitif dengan perang fisik habis-habisan ala Kabilisme (perang saudara Kabil membunuh Habil). Manusia harus lepas dari Tuhan mazhab gelombang 1.2.3, menuju manusia yang mengakui bahwa Tuhan itu Infinite Zero, Alpha dan Omega secara konkret, bukan pula slogan. Maka, kebijakan pemerintah yang mengurusi zakat dan segala macam ritual agama "kuno", jelas tidak akan kompatibel dengan Revolusi Industri 4.0 dan 4 Gelombang Peradaban Manusia yang bertransformasi permanen.

Kalau kita masih debat di urusan teologia manusia gelombang 1.0, maka Republik Indonesia akan ketinggalan dari dunia yang menuju Gelombang 4.0 peradaban manusia, dimana Meritokrasi adalah kata kunci saling menghormati kinerja satu sama lain, dan membuang kebencian kabilisme (senang melihat orang susah, tapi sedih melihat orang sukses, karena benci, iri, cemburu, dengki Kabilisme). Jadi urusan zakat ini harus dilihat dari perpekstif cendekiawan puncak Soejatmoko. Soejatmoko sebetulnya layak jadi Dirjen UNESCO, tapi dia gagal karena tidak direstui Orde Baru, dan hanya bisa menduduki kursi Rektor United Nations University. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF