BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Titip Rindu Buat Koperasi

'Koperasi adalah tulang punggung perekonomian nasional' sekarang cuma ada di naskah-naskah pidato, bahan kuliah mahasiswa ekonomi, atau buku sejarah.  Kenyataannya, makin sering dibicarakan, sosoknya makin tak jelas. Peran koperasi bahkan nyaris tak kelihatan dalam percaturan eknomi nasional yang kian didominasi oleh para konglomerat. 

Kalau masih hidup,  para pendiri bangsa tentu sedih melihat menyataan tersebut. Dulu mereka berjuang melawan penjajahan,  bahkan sampai berkali-kali dibuang ke daerah terpencil, demi kemerdekaan dan kesejahteraan yang adil dan merata bagi bangsanya. Mereka jelas tak bisa menerima kenyataan bahwa perekonomian nasional dikangkangi oleh sekelompok kecil pengusaha besar.

Koperasi sekarang ini ibarat barang dagangan kecil di etalase sebuah toko besar bernama kapitalisme. Pemilik toko tak mau menyingkirkannya karena takut dianggap antek neo kolonialisme, yang sangat dibenci oleh para pendiri bangsa. Salah satu pembencinya adalah Bung Karno, yang selalu bersemangat mengingatkan rakyatnya tentang bahaya neo-kolonialisme. 

Kini, sebagaimana di tahun-tahun politik sebelumnya, nama Bung Karno dipuji sanjung bahkan oleh pengusung Orba. Lucunya lagi, para pendukung Soeharto kini bekolaborasi dengan putri Bung Karno, Megawati Soekarnoputri. Kudeta berdarah dan pemenjaraan Bung Karno sampai akhir hayat tanpa proses pengadilan seolah dianggap tak pernah ada.
Persekutuan tersebut bisa terjadi karena mereka sama-sama kasmaran pada kapitalisme, dan kekuasaan. Koperasi pun cuma dijadikan gincu politik untuk meghibur rakyat. 

Kini perekonomian dari tingkat pedesaan sampai nasional dikuasai oleh para tengkulak, yang berperan sebagai pemodal, manajer produksi dan pemasaran, penguasa jalur distribusi, bahkan penjamin keamanan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para tengkulak besar sekarang ini berkolaborasi dengan aparat keamanan dan politisi papan teratas untuk mengamankan bisnis mereka. 

Koperasi sekarang ini seperti digambarkan oleh Ebiet G Ade dalam lagu "Titip Rindu Buat Ayah": Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkuk hm...

Kata Ayah cocok juga bila diganti dengan koperasi. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)