BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sejarawan, pemerhati isu perempuan, kordinator dan peneliti di Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Indonesia  
Tidak ada Rekonsiliasi Tanpa Sanksi Bagi Pelaku Kekerasan Seksual

SGRC Indonesia merespon kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus di Indonesia yang marak terjadi di tahun 2018. Terutama sehubungan dengan pemberitaan dugaan kasus kekerasan seksual yang dialami oleh Agni, Mahasiswi UGM yang beritakan oleh BPPM Balairungpress UGM, dengan judul Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan. SGRC Indonesia sebagai organisasi berbasis kajian seksualitas dan kelompok dukungan mahasiswa memberikan pernyataan.

Pertama, SGRC Indonesia percaya bahwa kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus sesungguhnya sudah terjadi dalam jangka waktu yang lama. Meningkatnya pemahaman atas kekerasan seksual, menggugah kesadaran penyintas untuk berani bicara. Jadi fenomena kekerasan seksual di kampus bukanlah suatu tren yang meningkat melainkan penyintas akhirnya berani melaporkan kasusnya.

Kedua, Keberanian penyintas sayangnya belum direspon dengan baik, khususnya oleh lingkungan kampus yang masih menyalahkan penyintas atas kekerasan seksual yang terjadi kepadanya. SGRC Indonesia mengenal fenomena ini dengan viktimisasi berganda, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh pihak kampus yang belum punya prespektif tentang kekerasan seksual sehingga menyebabkan penyintas merasa bersalah kepada dirinya dan menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari.

Ketiga, SGRC Indonesia menemukan bahwa sulitnya penyintas mendapatkan akses bantuan pendampingan kasus maupun konseling trauma. Hal ini membuktikan minimnya pengetahuan pihak kampus dalam memberi perlindungan dan menangani kasus kekerasan seksual.

Maka dari itu, SGRC Indonesia selaku pelopor kajian seksualitas dan kelommok pendukung di lingkungan kampus, merekomendasikan kepada seluruh Universitas di Indonesia untuk Menindak setiap kasus kekerasan seksual yang terlapor dengan sungguh-sungguh, berperspektif korban, tidak mengintimidasi dan memberi sanksi setimpal bagi pelaku;

Kemudian pihak kampus harus menjadikan kasus kekerasan seksual yang marak terjadi sebagai  refleksi lembaga dalam memberikan penanganan kasus yang lebih baik, tidak menyalahkan penyintas dan memberikan perlindungan khusus terhadap penyintas yang berani mengungkap kebenaran.

Tak hanya itu, Universitas juga harus bertanggung jawab secara lembaga untuk memberikan pemulihan baik fisik dan mental kepada penyintas. Menyediakan pendidikan dan pemahaman komprehensif akan hak kesehatan seksual dan reproduksi.

Terakhir, mendorong mahasiswa tiap-tiap universitas untuk membentuk kelompok dukungan (Support Group) untuk meningkatkan pemahaman komprehensif atas hak kesehatan seksual dan reproduksi (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Kartu Nikah Tidak Diperlukan             Penggunaan Pembayaran Online Harus Memiliki Regulasi             Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi