BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior 
Tidak ada Perubahan Signifikan

Pendaftaran Pilpres 2019 masih sekitar setengah tahun lagi, tapi prosesnya sudah dimulai pada hari-hari ini. Banyak yang percaya Jokowi akan kembali berhadapan melawan Prabowo Subianto, mengulang Pilpres 2014. Jika mengkaji matematika dukungan partai-partai, memang masih sukar membayangkan akan muncul capres ketiga.

Bahkan ada yang memperkirakan Jokowi akan melawan kotak kosong. Hal ini mustahil akan terjadi. Sampai detik ini sikap Prabowo masih belum berubah, tetap akan mencalonkan dirinya kembali sebagai presiden usungan Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Kemunculan capres ketiga masih dimungkinkan jika tiba-tiba terjadi perubahan drastis pada konstelasi dukungan partai/partai-partai. Namun, sekali lagi, perubahan semacam ini jauh dari kenyataan. Sejak 2014 kita sudah terjebak ke dalam jurang keterbelahan antara Jokowi dengan Prabowo, antara “kecebong” dengan “kampret”, dengan segala konsekuensinya.

Saya menduga Jusuf Kalla masih berambisi menjadi RI-1. Dua kali terpilih sebagai RI-2 dan sekali nyapres namun gagal menjadi modal yang cukup meyakinkan. Tapi, bagaimana caranya? Ia bukan lagi Ketua Umum Golkar dan menjadi pertanyaan akankah ada partai yang tertarik mendukung dia.

Dalam bursa capres kerap juga disebut nama eks Panglima Jenderal Gatot Nurmantyo dan Gubernur DKI Anies Baswedan. Sejak presiden dipilih langsung tahun 2004, belum pernah ada capres yang berasal dari luar partai alias bukan kader. Capres-capres kader partai adalah Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Amien Rais, Wiranto, Hamzah Haz, Jusuf Kalla, dan Prabowo.

Dengan kata lain Gatot maupun Anies harus resmi bergabung dengan partai dulu kalau berambisi menjadi capres. Kalau tidak mereka sebatas menjadi cawapres saja seperti Hasyim Muzadi, Agum Gumelar, Siswono Yudohusodo, Salahuddin Wahid, Jusuf Kalla, Wiranto, Budiono, dan Prabowo. Oleh sebab itulah muncul spekulasi duet Prabowo-Anies.

Untuk menjadi cawapres pun sulit bagi Anies karena dua partai pendukung, PKS dan PAN, bisa jadi akan menyodorkan cawapres masing-masing. Prabowo pasti juga akan menghitung faktor kinerja Gubernur DKI sebagai pertimbangan penting. Begitu pula nasib Gatot yang masih belum menentu. Alhasil, peluang mereka berbicara di panggung nasional kurang menggembirakan.

Berbeda halnya dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dia sudah punya kendaraan, yakni Partai Demokrat. Tapi dengan perolehan suara 10,19 persen atau 61 kursi di DPR, AHY dan Demokrat masih harus bekerja ekstra keras dalam menggalang dukungan. Dan, sejujurnya, tugas ini tidak seperti membalikkan telapak tangan.

Jokowi pun dalam posisi yang kurang leluasa dalam memilih cawapres dia. Mungkin ia lebih leluasa dibandingkan tahun 2014, namun tetap mesti mendengar aspirasi partai-partai pendukung. Dan, posisi cawapres 2019 akan berpengaruh kuat terhadap Pilpres 2024 sehingga Jokowi mesti ekstra hati-hati menyiapkan orang yang mungkin akan kelak akan menggantikan dia.

Selain itu Jokowi perlu mempertimbangkan pula latar belakang politik cawapres dia. Maka muncullah anggapan cawapres dia sebaiknya yang mempunyai credential mewakili Islam atau TNI-AD untuk menghambat laju kelompok-kelompok pembenci Jokowi. Oleh sebab itulah belakangan ini dimana-mana muncul spanduk Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar sebagai cawapres Jokowi dan eks Panglima TNI Moeldoko mendadak masuk istana.

Satu pertimbangan lain yang layak diperhatikan Jokowi adalah memilih cawapres perempuan yang masuk jajaran Kabinet Kerja seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati. Ada pula Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti yang populer dengan kebijakan “tenggelamkan saja”. Ingat, jumlah pemilih perempuan hampir separuh dari total pemilih sekitar 196 juta orang atau sekitar 97,8 juta orang.

Jadi kalau Pilpres 2019 akhirnya kembali menghadapkan Jokowi dengan Prabowo, itu artinya status-quo saja. Mungkin tidak akan ada perubahan yang signifikan: isu-isunya itu-itu lagi, diwarnai kampanye negatif (bahkan hitam), dan hasil akhirnya barangkali tidak terpaut jauh dari hasil-hasil survei belakangan ini. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF