BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pegiat UMKM, Founder/ Ketua Umum Komunitas Eksporter Muda Indonesia (KEMI)
Tidak Perlu Latah, Naikkan Dulu Human Development Index

Pada 2016 Indonesia menempati ranking 113 Human Development Index (HDI) dari total 188 negara di dunia dengan kategori 'Medium Human Development ' yang artinya masuk kepada index pembangunan manusia tingkat sedang. Indonesia masih di bawah Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Untuk Singapura menempati urutan 6 dari 188 negara di dunia dengan kategori Very High Human Development (Source: UNDP). Dari data di atas bisa dianalisis bahwa indeks pembangunan manusia kita sangat jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga ASEAN, apalagi dengan Singapura.

Era digital yang berafiliasi dengan Artificial Inteligent (AI) adalah era yang mengintegrasikan kreatifitas, science, teknologi internet, intelektualitas, perkembangan hardware dan software dipadukan dengan mengolah kesempatan dan peluang di masa sekarang dan masa depan.

Industri era digital lebih membutuhkan kesiapan SDM dibanding ketersediaan sumber daya alam dan mineral yang melimpah. Bagi negara-negara yang memiliki keterbatasan sumber daya alam akan mempersiapkan era tersebut dengan lebih baik dan terstruktur dengan visi yang lebih jauh karena mereka tidak memiliki stok bahan baku dan kekayaan alam yang bisa diolah menjadi komoditas utama perekonomian secara jangka panjang.

Sedangkan di Indonesia, dengan tingkat HDI 0,689 (kategori sedang)  tentunya akan lebih membutuhkan energi, anggaran yang lebih besar serta persiapan yang lebih matang lagi untuk mempersiapkan masyarakat memasuki era digital dan AI. Oleh karena itu pembangunan manusia seutuhnya di negara ini adalah hal paling kritis untuk bisa mengikuti kemajuan sebuah peradaban.

Dengan kondisi di atas serta melimpahnya sumber daya alam dan mineral alangkah baiknya Indonesia tidak ikut latah serta merta merumuskan industrialisasi digital sebagai main platform pembangunan ekonomi negeri ini. 

Memang kehadiran era digital dan Artificial Inteligent tidak bisa dihindari dan itu adalah sebuah keniscayaan kemajuan peradaban manusia, namun perlu sebuah langkah cerdas mensikapi perubahan ini dengan menyesuaikan kondisi dan potensi dalam negeri. 

Arah perekomonian Indonesia saat ini sebaiknya menyelaraskan perkembangan zaman dengan mengoptimalkan industri olahan bahan baku dan sumber daya alam yang melimpah di setiap penjuru negeri. Keunggulan Indonesia adalah kekayaan alam yang tidak dimiliki negara lain, sehingga akan jadi sebuah langkah cerdas jika pemerintah mampu mengkolaborasipenguatan sektor industri hulu ke hilir dan menggunakan kemajuan digital dan Artificial Inteligent sebagai daya ungkit (leverage) nilai tambah dan ekonomi.

Program infrastruktur yang sedang di genjot pemerintah saat ini memang harus linear dengan strategi arah baru perekonomian bangsa ini. Kehadiran akses jalan tol, pelabuhan dan bandara semestinya mampu mendorong daerah untuk menaikkan nilai tambah ekonomi mereka untuk menguatkan sektor industri olahan bahan baku. Kehadiran teknologi digital dan Artificial Inteligent adalah suplemen untuk mempercepat pertumbuhan perekonomian sebuah daerah , terutama daerah  pelosok dan terpinggirkan untuk mempermudah dan mempercepat akses informasi dan penyerapan pasar .

Bonus demografi adalah sebuah anugerah dan energi baru luar biasa untuk mendongkrak produktivitas dan menaikkan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) negara ini, generasi milenial akan menjadi pelopor kemajuan ekonomi, akan tetapi dengan catatan pemerintah beserta seluruh stakeholder di negeri ini benar-benar serius menaikkan tingkat Human Development Index (HDI), minimal naik ke level High Human Development.

Dengan generasi milenial yang lebih berkarakter, pekerja keras, kreatif dan terdidik, mereka akan menjadi manusia yang produktif dan inovatif di era digital dan AI. Sehingga mimpi menjadikan Indonesia sebagai negara maju 2030 adalah sebuah kenyataan, bukan sekedar harapan.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI