BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM
Tetap Tingkatkan Kapasitas Generasi Milenial

Membicarakan tatanan ekonomi dunia saat ini tidak bisa lepas dari sejarah tumbuhnya negara-negara maju. Terutama ketika negara-negara tersebut belum menjadi seperti sekarang. Perdebatan peta jalan negara-negara industri maju saat ini : Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya ternyata dimulai dari kebijakan proteksionis terhadap “industri bayi”nya (infant industry protectionism policy).

Ekonom berkebangsaan Korea Selatan, Ha-Joon Chang pada 2002 menulis dalam bukunya yang terkenal Kicking Away the Ladder: Development Strategy in Historical Perspective menyimpulkan bahwa perdagangan bebas (free-trade) bukanlah yang mengantarkan berbagai negara di Eropa dan Amerika menjadi negara industri maju. Bahkan Jepang sebelum menyejajarkan diri sebagai negara industri maju juga melakukan kebijakan proteksionis terhadap “infant industry”nya. 

Chang menyarankan agar IMF dan Bank Dunia meninjau penerapan kebijakan pada negara-negara yang dibantu mengatasi permasalahan ekonomi, karena sesungguhnya tidak ada kebijakan praktik terbaik (best practice policy) yang dapat berlaku pada semua negara. Selanjutnya WTO melonggarkan kebijakan bagi negara-negara yang akan melindungi “infant industry”nya untuk periode tertentu, sebagaimana pernah dilakukan negara-negara industri maju dahulu. 

Meski saran Chang sudah digaungkan lebih dari satu dekade, namun sampai saat ini negara-negara berkembang masih kesulitan bertransformasi menjadi negara-negara industri maju. Masih menurut Chang, negara-negara industri maju yang didominasi Eropa dan Amerika Serikat telah menyepak tangga  naik ke tingkat negara industri maju, sehingga negara-negara berkembang tidak dapat menapaki rute atau jejak yang pernah mereka lalui. 

Oleh karena itu, China dan Korea Selatan memilih membuat tangga baru yang berbeda dengan tangga yang digunakan negara Eropa dan Amerika Serikat. Tangga menuju negara industri maju yang dibuat China dan Korea Selatan relatif sama yaitu akuisisi teknologi. China memfasilitasi ribuan bahkan ratusan ribu industri skala rumahan untuk berproduksi, sambil menguasai teknologi. Bahkan China sempat dicap sebagai pencuri teknologi karena tidak melindungi paten teknologi negara-negara Barat. 

Korea Selatan mengandalkan etos kerja sumberdaya manusianya yang luar biasa dalam akuisisi teknologi melalui disiplin dan komitmen tinggi, yang berorientasi hasil. Orang Korea dikenal sebagai pekerja keras dan persisten dalam menguasai suatu teknologi hingga berhasil. Namun demikian dalam skala tertentu baik China dan Korea Selatan meski membuka diri terhadap barang impor, masih tetap melindungi pasar domestik bagi sebagian produk yang sedang diproduksi industrinya. 

Apa yang dilalui China dan Korea Selatan kiranya menjadi inspirasi banyak negara berkembang di berbagai belahan dunia. Bagi Indonesia, yang dikaruniai sumber alam melimpah sebenarnya bisa tumbuh menjadi negara industri maju melalui akuisisi teknologi. Khususnya kelapa sawit, karena di dunia ini hanya Indonesia dan Malaysia yang merupakan produsen terbesar. Indonesia harus mengembangkan teknologi untuk mengolah kelapa sawit menjadi berbagai produk bernilai tinggi yang mampu menjadi pengungkit (leverage) sektor-sektor industri lainnya. 

Hal lain yang berpotensi sangat besar mengantarkan Indonesia menjadi negara industri maju berikutnya adalah : akuisisi teknologi informasi dan komunikasi yang menggerakkan ekonomi kreatif. Hal ini akan mengubah lapangan bermain (playing field) bisnis dan perdagangan dunia yang selama ini dikuasai negara-negara maju Eropa dan Amerika Serikat. Negara-negara berkembang lainnya harus memahami potensi dan karakteristik sumberdayanya untuk menjadi negara industri maju.

Cryptocurrency, blockchain technology, cashless payment serta sistem produksi-bisnis berbasis IoT antara lain merupakan variabel-variabel yang mempengaruhi sistem ekonomi dunia sekarang dan masa datang. Sudah saatnya negara-negara berkembang mempersiapkan sumberdayanya untuk memanfaatkan hal-hal tersebut, jika tidak ingin tertinggal lebih jauh dari negara-negara maju. 

Pada titik inilah, generasi milenial di setiap negara seakan menjadi pelari ke-empat dalam perlombaan lari estafet yang menentukan suatu negara menyentuh garis finish dengan waktu singkat atau tidak. Generasi milenial di setiap negara harus didukung peningkatan kapasitasnya dalam mengakuisisi teknologi agar kemajuan negaranya dapat terwujud. Bagaimana dengan generasi milenial Indonesia sebagai pelari keempat yang memegang tongkat estafet untuk dibawa hingga menyentuh garis finish? (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI