BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI
Tetap Fokus ke Perbaikan Struktur Industri

Kalau kita bicara mengenai pelemahan rupiah, seperti yang pernah saya sampaikan dalam artikel saya, sebenarnya permasalahannya lebih ke fundamental ekonomi. Dimana ketika kita mengalami deindustrialisasi yang cukup persistense sementara permasalahan itu belum tuntas, maka di kemudian hari pasti kita akan menghadapi permasalahan ini juga. 

Adapun dengan adanya BSA, BCSA, Swap Agreement dan lain-lain, itu memang awalnya dibentuk sebagai respons terhadap krisis yang terjadi pada 1998. Karena memang pada saat itu pilihan kita sangat terbatas. Ketika IMF masuk sebenarnya karena keterbatasan pilihan tadi. Dengan adanya perjanjian kerjasama di atas sebenarnya menjadikan kita tidak terlalu tergantung kepada IMF dan akan jauh lebih fleksibel.

Kita sudah terlibat dalam CMIM dan beberapa perjanjian bilateral Swap Agreement. Dan ini sebenarnya membuat secara proyeksi ke depan potensi krisis kita andaikan ada krisis mata uang tidak akan terlalu berpengaruh besar. Karena kita punya ‘bantalan’ jika ada krisis dengan adanya ‘international writters’. 

Pun demikian, meskipun ‘international reserves ’ kita tersedot cukup banyak tetapi masih cukup kuat dibandingkan dengan 10 atau 20 tahun yang lalu. Cuma memang, ‘PR’ ke depan adalah bagaimana kita untuk bisa mengantisipasi gejolak-gejolak eksternal ke depan, karena hal itu pasti akan kita hadapi terus. Caranya adalah dengan memperbaiki struktur industri kita.

Sidang  ‘The Fed’ bulan depan, memang akan memberikan tekanan terhadap rupiah dan beberapa pihak juga melihatnya berpotensi capital outflow. Tapi saya rasa kita harus wait and see dulu, di mana tekanan-tekanan dari segi makro kita sebenarnya belum cukup urgent untuk kemudian kita meresponsnya dengan menaikkan suku bunga acuan BI.

Karena kita melihat inflasi kita cuma 3,4 persen dan juga angka pengangguran kita yang masih relatif stabil dan manageable, jadi saya pikir belum perlu untuk menaikkan suku bunga acuan. Sebab, kalau kita meresponsnya dengan kenaikan suku bunga secara gegabah, maka ada beberapa konsekwensi, yang pertama kita harus melihat jika kenaikan suku bunga BI ini tingkat elastisitasnya terhadap perbaikan nilai tukar rupiah tidak terlalu signifikan, jika kita melihatnya dari data beberapa tahun terakhir. Sehingga ditakutkan bahwa dengan naiknya suku bunga mungkin justru akan membebani perekonomian. Ibaratnya lomba marathon, maka kita harus hemat energi atau ‘simpan peluru’ jangan sampai kita mengeluarkannya terlalu awal, nanti disaat kita membutuhkan justru sudah kehilangan ‘kekuatan’. 

Memang, Argentina sudah menaikkan suku bunga mereka hampir 40 persen menurut berita terakhir, tapi itu karena inflasi Argentina sudah di atas 25 persen. Oleh karena itu mereka harus menaikkan suku bunganya jauh di atas nilai inflasi. Sedangkan inflasi kita masih 3,4 persen dan bahkan jika melihat perkembangan terakhir, ‘Core Inflation ’ kita justru turun.

Itu artinya, jika kita melihat inflasi nominal kita relatif tidak terlalu mengkhawatirkan, karena sepertinya pemerintah menahan kenaikan BBM sehingga dari sisi administered price nya bisa dikatakan manageable. Tapi justru yang mengkhawatirkan menurut saya dari sisi core inflation yang disebut turun, itu menggambarkan dua hal, satu sisi output-nya mengkerut, sisi lain demand nya juga mengkerut. Nah, dalam konteks seperti ini jika kita menaikkan suku bunga maka akan menekan demand dan juga akan menaikkan cost of financing sehingga bisnis menjadi lesu. Memang rupiah dalam jangka pendek bisa membaik, tetapi risiko bisnis lesu karena tekanan cost of financing juga harus diperhatikan. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF