BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Managing Director Bahrain & Associates Law Firm, Wasekjen DPN Peradi
Temuan TPF Novel Tidak Fokus

Tim pencari fakta (TPF) harusnya ada hasil, yaitu mengungkap siapa pelaku lapangan dan aktor intelektual penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. Bisa saja TPF sudah mengumpulkan bukti-bukti, tinggal polisi yang menentukan tersangkanya. Mungkin sudah ada identitas pelaku yang sudah ditemukan, tapi membiarkan polisi yang mempublikasikannya. Sampai sekarang, kita tidak tahu bagaimana sekenario yang mau dibangun terkait pengungkapan kasus ini.

Yang pasti, TPF itu untuk membantu polisi mengungkap siapa pelaku, bagaimana kronologis sesungguhnya, dan lain-lain.  Saya berharap TPF berhasil mengungkap siapa pelakunya. Harusnya begitu. Kalau tidak, berhasil mengungkap petunjuk-petunjuk lain yang harus dilakukan oleh polisi.

Hasil investigasi TPF ini semakin melebar. Tidak fokus. Misalnya, terkait pernyataan TPF menyampaikan bahwa penyiraman air keras itu akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan atau excessive abuse of power oleh Novel. Itu tidak boleh dilakukan. TPF tidak pantas menyatakan seperti itu. Kan tujuannya mencari pelaku, bukan kenapa Novel melakukan itu.

Harusnya mereka hanya menyampaikan, hari ini petunjuknya sudah cukup dan kami menyerahkan kepada polisi untuk menindaklanjutinya. Jangan pula Novel yang disalahkan. Tidak mungkin Novel bergerak sendiri dalam menjalankan kewenangannya sebagai penyidik KPK karena dia dibawah pimpinan KPK. Artinya, dia bergerak karena ada perintah atau surat.

Hasil investigasi itu seolah-olah menyudutkan Novel. Apalagi, TPF menyebut penyiraman itu akibat Novel melampaui kewenangannya. Kemudian, penyerangan itu merupakan feed back dari penanganan enam perkara korupsi sehingga kemungkinannya penyiraman air keras itu merupakan balas dendam.

Kalaupun benar, temuan semacam itu seharusnya jangan menjadi konsumsi publik. Investigasi yang perlu mereka lakukan itu soal kapan kejadiannya, bagaimana kronologisnya, siapa pelakunya, dan motifnya seperti apa. Kalau dilihat dari beberapa unsur tersebut, berarti ada unsur yang tidak berhasil diungkap.

Adanya TPF ini kan kita ingin mencari pelaku siapa yang melakukan penyerangan kepada Novel, bukan justru korban yang disalahkan. Temuan TPF itu seolah-olah menyatakan bahwa penyiraman air keras itu gara-gara korban yang banyak gaya (abuse of power), makanya dihantam orang.

Melihat temuan yang disampakain publik, kita melihat bahwa apa yang dilakukan oleh TPF ini sama saja dengan penyidikan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya, sebelum kasus Novel diambil alih oleh Polri.

Jika berkaca hasil TGPF kasus Munir itu ada orang yang ditargetkan. Mereka diperiksa, sampai akhirnya jadi tersangka. Muchdi PR dan Pollycarpus, misalnya. Itu saja sudah kita anggap buruk karena tidak berhasil menyeret aktor intelektualnya, bagaimana mungkin kita harus mengapresiasi TPF Novel. Artinya, TPF Novel lebih kacau dari TGPF Munir. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir