BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)
Tech Disruption: Ancaman Nyata Creative Destruction

Salah satu ciri khas kapitalisme adalah inovasi terus menerus untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Revolusi Industri yang merupakan inovasi besar kapitalisme mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dunia menjadi jauh lebih baik. Revolusi Industri yang menggantikan tenaga manusia dengan tenaga mesin membuat efisiensi dan produktivitas di dalam proses produksi meningkat tajam dan membuat harga produk menjadi lebih murah dan lebih terjangkau.

Disamping dampak positif, tentu saja juga ada dampak negatifnya, yaitu hilangnya lapangan kerja yang digantikan oleh mesin tersebut. Munculnya industri otomotif pada awal 1900an hasil inovasi Henry Ford mengakibatkan hilangnya lapangan kerja di industri kereta kuda. Ekonom Austria, Joseph Schumpeter menyebut proses ini sebagai Creative Destruction, sebuah proses inovasi di dalam suatu proses produksi (yang dipicu oleh inovasi teknologi) yang menyebabkan hilangnya proses (industri) lama dan munculnya proses (industri) baru. Menurut Schumpeter, kekuatan disruptif inilah yang memacu pertumbuhan ekonomi dunia selama ini. Artinya, tanpa inovasi dan disrupsi pertumbuhan ekonomi dunia saat ini mungkin sudah mengalami stagnasi atau bahkan kontraksi. Dan mungkin juga dunia saat ini sedang mengalami kekurangan pangan (karena penambahan penduduk dunia yang sginifikan) seperti yang diperkirakan oleh ekonom Inggris, Thomas Robert Malthus.

Kekhawatiran banyak pihak bahwa inovasi dan disrupsi akan menghilangkan banyak lapangan kerja, sampai saat ini tidak, atau belum, terbukti. Memang banyak industri yang menggunakan teknologi lama akan hilang dan digantikan dengan munculnya industri inovasi baru. Polaroid yang dulu sangat inovatif sekarang hilang dari peredaran akibat munculnya teknologi kamera digital. Kaset (Walkman) diganti oleh compact disc, dan kemudian diganti dengan MP3 player (ipod), dan sekarang bahkan diganti dengan streaming melalui internet. Begitu juga dengan video yang sekarang bisa ditonton melalui streaming seperti yang ditawarkan oleh Netflix atau Iflix. Media cetak juga sudah banyak yang hilang dari peredaran digantikan dengan media online dan media sosial.

Sampai dewasa ini, tingkat pengangguran dunia tidak meningkat akibat proses inovasi dan disrupsi karena hilangnya produk (industri) yang outdated digantikan dengan produk (industri) baru lainnya. Tetapi, pertanyaan besarnya adalah, apakah inovasi dan disrupsi tidak akan menghilangkan lapangan kerja secara agregat untuk selamanya? Schumpeter juga meragukan hal ini. Lambat laun inovasi dan disrupsi pada akhirnya akan meningkatkan pengangguran karena tingkat efisiensi dan produktivitas yang diciptakan dari inovasi teknologi (informasi) semakin besar. Artinya, penciptaan lapangan kerja (dari industri) baru lebih sedikit dari penghapusan lapangan kerja (dari proses produksi) lama. Penciptaan robot dan Artificial Inteligence (AI) menjadi salah satu faktor pemicu yang akan menghilangkan lapangan kerja secara signifikan. Masyarakat dunia juga sedang menantikan bagaimana dampak dari mobil nirawak (driverless car) yang merupakan perpaduan antara robot dan AI terhadap profesi sopir taksi, atau sopir pribadi.

Yang pasti, dampak negatif inovasi dan disrupsi akan sangat terasa bagi negara yang hanya pengguna teknologi seperti Indonesia. Sebagai negara pengguna (bukan inovator), Indonesia tidak menciptakan lapangan kerja di industri baru yang inovatif tersebut. Sebagai contoh, Indonesia tidak memperoleh manfaat yang berarti dari meningkatnya industri telekomunikasi karena tidak memproduksi perangkat telekomunikasi baik alat elektronik di BTS (base transceiver station) maupun alat elektronik pengguna seperti smartphone atau laptop. Oleh karena itu, kita jangan terkejut kalau teknologi informasi yang semakin maju akan mengurangi jumlah karyawan secara signifikan di bagian layanan pelanggan (customer service /customer support), pelayanan restoran, dan di banyak bagian lainnya lagi di berbagai industri di Indonesia. Tidak ada pilihan lain, Indonesia harus segera menyiapkan diri menghadapi tantangan tersebut dengan cara membangun berbagai macam industri agar dapat meyerap tenaga kerja yang berlimpah akibat “bonus demografi”. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!