BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Aktivis Mahasiswa, Pelaku Bisnis sekaligus Pemerhati Sosial Budaya Nusantara
Tak Akan Ada Ekonomi Pancasila Tanpa Gotong Royong

Dalam sistem ekonomi dunia yang liberal di bawah penguasaan pemilik modal global, sistem Ekonomi Pancasila seolah tak lagi terdengar, bahkan dalam berbagai diskursus ilmiah di ruang-ruang akademik.

Sistem ekonomi dunia yang mengamanatkan diberlakukannya liberalisasi perdagangan yang berorientasi pasar membuat pasar menjadi Tuhan yang berkuasa atas sistem tata niaga ekonomi baik barang, jasa, investasi, maupun tenaga kerja.

Pada konteks itu, amanat preambule UUD '45 untuk menjadi Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur dengan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut serta menjaga ketertiban dunia berdasarkan Pancasila tidak lagi kompatibel untuk mampu tumbuh subur di lahan neoliberalisme yang dikuasai oleh kepentingan modal.

Pancasila dalam wujud Eka Sila yaitu “Gotong Royong” seperti yang disampaikan Ir. Soekarno dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 di Sidang BPUPKI jelas-jelas juga merupakan dasar dari perikehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara termasuk juga bagaimana setiap warga bangsa memenuhi kebutuhan ekonominya.

Ekonomi Pancasila adalah “Ekonomi Gotong Royong” dimana setiap warga bangsa turut berperan aktif terlibat di dalamnya sebagai subyek yang secara otonom dan berdaya ikut berkontribusi secara kolektif dan komunal pada proses pemenuhan kebutuhan hidup yang mampu berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, baik sandang, pangan dan papan.

“Ekonomi Gotong Royong” adalah ekonomi yang bersifat kooperatif dimana berat sama dipikul ringan sama dijinjing sehingga tidak memberi ruang bagi munculnya tindakan eksploitatif baik antar sesama manusia maupun manusia terhadap alam lingkungan hidupnya.

“Ekonomi Gotong Royong” yang berdikari mensyaratkan setiap warga bangsa untuk berkepribadian di bidang budaya dengan tetap berpegang pada nilai-nilai adab dan adat istiadat yang berkemanusiaan adil dan beradab sehingga tidak menjadi kacang yang lupa akan kulitnya sebagaimana bumi dipijak, disitu pula langit dijunjung.

Pada akhirnya “Ekonomi Gotong Royong” adalah sejauh mana amanat konstitusi Pasal 33 UUD '45 diejawantahkan dalam suatu sistem ekonomi dimana:

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Tanpa itu semua maka Ekonomi Pancasila tetap akan tinggal sekadar menjadi catatan bagi sejarah masa lalu yang telah terusir dari negerinya sendiri oleh sistem ekonomi Neoliberalisme. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI