BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pakar Teknologi Informasi
TIK Harus Masuk Kurikulum Sekolah

Dengan semakin berkembangnya teknologi, semakin tersebarnya kepemilikan perangkat digital (gadget/smartphone) dan kemudahan arus informasi yang didapatkan masyarakat, membuat dunia digital semakin mudah dijelajah.

Untuk tahun 2016 saja, populasi warganet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang, atau 51,8 persen dari populasi seluruh penduduk Indonesia, dengan 70 persennya menggunakan smartphone untuk akses internet. Dengan jumlah warganet sebesar itu, tentu juga mengubah pola dan perilaku kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk perilaku konsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ekonomi digital pun menjadi keniscayaan. Toko online (e-commerce) dan market place menjawab dan memenuhi keinginan masyarakat tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan perkembangan e-commerce dalam 10 tahun terakhir yang tumbuh sekitar 17 persen dengan total jumlah usaha mencapai 26,2 juta unit. Menkominfo menyebut, per Desember 2016, sebanyak 8,7 juta konsumen telah melakukan transaksi di e-commerce mencapai 4,89 miliar dolar AS atau setara dengan Rp68 triliun. Bahkan, di tahun 2017 ini diperkirakan nilai transaksinya akan mencapai 5,29 miliar dolar AS, dan di 2020 nanti, mencapai 130 miliar dolar AS. Sungguh potensi yang luar biasa di sektor ekonomi digital.

Lantas, bagaimana dengan kelompok pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi pahlawan penguat ekonomi Indonesia ketika krisis ekonomi dunia terjadi, dan sebagai pelaku ekonomi terbesar di Indonesia?

Sebagai penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) nasional (60,34 persen), UMKM sudah seharusnya menjadi pelaku aktif di ekonomi digital. Dengan ketahanan sangat tinggi yang dimiliki UMKM dan potensi yang sangat besar di ekonomi digital, sudah seharusnya UMKM bisa bersaing dengan e-commerce yang selama ini menjadi penikmat terbesar manisnya potensi ekonomi digital.

Hal ini memungkinkan terjadi jika penyediaan infrastruktur teknologi informasi sudah memadai, sehingga akses internet bisa didapatkan hingga ke pelosok daerah dan pedesaan. UMKM juga harus memiliki literasi digital (digital literate) yang bisa didapatkan dengan memberikan pelatihan dan bimbingan untuk mengenal dunia digital. Kalau perlu, untuk jangka panjangnya, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar. Sehingga pendidikan digital ini bisa diajarkan sejak usia dini. Kalaupun sudah ada pendidikan ini, jangan sampai dihapus dari kurikulum. Kalau perlu semakin ditingkatkan, baik kualitas maupun jam belajarnya.

Untuk saat ini, secara sederhana UMKM bisa bermain di market place seperti Tokopedia, Bukalapak, atau OLX. Dengan membuka lapak di sana, menjual produk sekaligus dijadikan sebagai sarana promosi. Tidak butuh infrastruktur yang tinggi lagi mahal. Hanya bermodal laptop atau smartphone yang pasti sudah mereka miliki (banyak produsen menyediakan smartphone dengan harga murah).

Untuk lebih mengintensifkan lagi, selain menjadi pelapak, UMKM juga bisa memanfaatkan sosial media sebagai sarana promosi dan jual beli, dengan mengutamakan kelebihan dari sosial media, yakni berinteraksi dan bersosialiasi. Mengingat tingkat pendidikan para pelaku UMKM –terutama di sektor mikro—yang kebanyakan berada di daerah pedesaan, yang masih mampu/mudah menggunakan sosial media, tak harus ribet dengan prasyarat digital marketing. Ditunjang lagi dengan karakter masyarakat Indonesia, sebagai masyarakat ketimuran yang selalu membangun interaksi sosial (social interaction) sebagai karakter utama, tentu sangat efektif. Meski tak sepesat e-commerce, tapi pertumbuhan bisnis UMKM bisa naik secara signifikan.

Namun jika kemudian pemerintah, dengan perhatiannya kepada UMKM, membangun tempat khusus (market place) yang kemudian diberikan kepada UMKM untuk promosi, jual beli, dan melakukan transaksi di sana, tentu akan menjadi lebih bagus lagi. Tapi akan butuh dana yang besar untuk membangun big data dan segala perangkat penunjangnya serta infrastrukturnya. Jika mampu dilaksanakan, kenapa tidak? Toh itu demi kemajuan UMKM yang tentu akan berpengaruh sangat signifikan terhadap kemajuan dan peningkatan ekonomi nasional. (afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional