BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)
Suku Bunga Acuan Hanya Efektif dalam Jangka Pendek

Upaya menaikkan kembali suku bunga acuan BI (7DRR) akan berkonsekuensi pada target pertumbuhan ekonomi yang akan semakin 'tekor'. Akibat lain, laju kredit yang akan semakin melambat. 

Upaya tersebut juga akan berefek pada terjadinya perang suku bunga bagi bank umum untuk menjaga rasio likuiditas mereka. Padahal salah satu faktor penyebab melemahnya Rupiah saat ini datang dari fundamental ekonomi yang mengalami stagnasi. Ekspor yang tidak mampu didorong membuat neraca perdagangan mengalami tekanan, karena di saat yang sama impor meningkat tajam mengikuti siklus peningkatan permintaan saat lebaran. Di samping itu, peringkat investment grade juga belum mampu dioptimalkan menjadi pemikat daya tarik investasi langsung di sektor riil secara besar-besaran. 

Di sisi fiskal, meskipun pembangunan infrastruktur dipacu, namun rasio-rasio keuangan BUMN infrastruktur juga menjadi perhatian investor, terutama terkait cash flow likuiditasnya. 
Jadi, menghadapi situasi saat ini sebenarnya solusinya bukan lagi terus-menerus mengerek suku bunga acuan, karena dampak ke apresiasi Rupiah hanya temporer. Pemerintah dan BI harus menunjukkan adanya perbaikan sisi sektor riil untuk membangun optimisme ekonomi dan menjadi “pengikat” bagi investor agar tetap menaruh dananya di Indonesia. 

Jika solusinya bunga acuan lagi, maka hanya akan efektif dalam jangka sangat pendek. Harus diingat bahwa FOMC The FED sepanjang 2018 setidaknya masih akan ada 4 kali lagi. Jika potensi kenaikan FFR terlalu sering direspon dgn kenaikan bunga acuan, selain akan mendorong bunga simpanan dan bunga kredit naik, juga dapat menimbulkan persepsi kebijakan bank sentral ‘tidak independen’ dari perilaku suku bunga acuan AS.    

Strategi yang harus dijalankan bila kelak bank sentral AS menaikkan lagi suku bunganya dua kali lagi ke depan? Jawabannya, Segera perbaiki kinerja transaksi berjalan, terutama yang bersumber dari neraca perdagangan. Jika sulit menggenjot ekspor karena meningkatnya proteksionisme, maka sebisa mungkin menekan impor dan mensubstitusinya dengan produk lokal.
Di sisi Fiskal, harus ada kesinambungan kinerja, maksudnya jika secara makro rasio utang terhadap PDB, DSR, dan indikator lain dikatakan aman, maka rasio-rasio keuangan BUMN infrastruktur juga harus menggambarkan situasi yang sejalan. Jika tidak, maka yang terjadi adalah distrust dari investor. Akibatnya, mereka akan lari ke negara yang indikator ekonominya lebih baik.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan guna mencegah pelambatan pertumbuhan ekonomi, jika dampak kenaikan suku bunga berpengaruh terhadap dunia usaha dalam negeri, saya kira
perlu menerapkan berbagai strategi non tariff barrier yang dapat mengurangi impor, serta kebijakan mengutamakan produk nasional secara konsisten.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)