BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM
Strategi Pemanfaatan Bonus Demografi di Sektor Pertanian.

Indonesia dengan penduduk 295 juta jiwa di tahun 2030 menurut laporan Standard Chartered Plc sebagaimana diwartakan oleh Bloomberg pada 8 Januari 2019, diproyeksikan akan masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia dengan PDB 10,1 Trilyun USD di bawah China, India dan Amerika Serikat namun di atas Turki.

Hal itu didasarkan pada keyakinan bahwa proporsi PDB negara-negara di dunia sejajar dengan proporsi populasi negara-negara karena didorong oleh konvergensi PDB per kapita antara negara ekonomi maju dan berkembang. Dengan kata lain, negara berpopulasi penduduk besar akan berpeluang besar menjadi kekuatan utama ekonomi dunia.  Masih dalam laporan tersebut, negara yang diproyeksikan pada tahun 2030 akan menyusut kekuatan ekonominya adalah Jepang, karena populasi penduduk Jepang diproyeksikan tahun 2030 hanya 120 juta jiwa dengan 33 persen bukan usia produktif yaitu penduduk berusia di atas 65 tahun.

Pandangan optimistik pihak luar terhadap ekonomi Indonesia dengan mencermati fenomena kependudukan yang dialami Jepang menjadi masukan penting para pemangku kepentingan terutama pemerintah dalam menyikapi periode bonus demografi Indonesia yang dimulai 2020 dan menurut BPS akan berakhir di 2036.  Bonus demografi merupakan besarnya penduduk usia produktif antara 15 tahun hingga 64 tahun dalam suatu negara. Diperkirakan jumlah bonus demografi Indonesia di tahun 2030 adalah 180 juta jiwa.

Jumlah tenaga kerja produktif yang melimpah merupakan sumberdaya penting dalam menggerakan ekonomi sebuah negara untuk tumbuh pesat yang akhirnya memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Namun jika tenaga kerja produktif yang melimpah itu menganggur maka akan menimbulkan masalah pelik dan kerugian besar.

Menjadi pertanyaan besarnya adalah, bonus demografi Indonesia akan diserap oleh sektor tenaga kerja mana saja? Peta sebaran angkatan kerja Indonesia dari BPS di kuartal 1 - 2018, menunjukkan bahwa sektor pertanian, perikanan dan kehutanan masih menyerap tenaga kerja terbesar yaitu 30,46 persen, diikuti sektor perdagangan sebesar 18,54 persen dan sektor industri pengolahan sebesar 14,11 persen. Lalu sektor penyediaan akomodasi dan makanan minuman sebesar 6,37 persen, sektor konstruksi sebesar 5,55 persen, sektor pendidikan sebesar 4,97 persen dan sektor jasa lainnya sebesar 4,93 persen. 

Oleh karena itu pengembangan sumberdaya manusia untuk meningkatkan produksi pertanian, perikanan dan kehutanan menjadi penting dan harus dilanjutkan dengan peningkatan nilai tambah produk melalui industri pengolahan.

Sekolah vokasi menjadi sarana tepat agar produktivitas di sektor-sektor tersebut segera terwujud. Program penguatan sekolah vokasi yang tengah dirancang pemerintah melalui perombakan kurikulum SMK agar sukses mencapai tujuannya memerlukan konsep yang jelas hingga tingkat implementasi, karena tantangan terbesar bukan dari penyediaan anggaran namun terletak pada kesiapan guru-guru SMK menyerap konsep tersebut seutuhnya serta memiliki kompetensi melaksanakan kurikulum baru SMK. Belum lagi ketersediaan fasilitas praktek SMK yang sangat terbatas. 

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut diperlukan kerjasama dan dukungan segenap pemangku kepentingan SMK. Sebagai contoh dalam penguatan SMK di sektor pertanian sedang dikembangkan program LARETA (Laboratorium Edukasi Tani) oleh Direktorat Pembinaan SMK-Kemendikbud, yang mendorong kerjasama pemanfaatan sarana produksi di berbagai Kawasan Transmigrasi Mandiri – KemenDesaPDTT sehingga produk-produk unggulan desa dapat diberi nilai tambah melalui proses pengolahan.

Program LARETA juga mendorong lahirnya agropreneur di mana para lulusan SMK disiapkan menjadi wirausaha pertanian yang memanfaatkan sumberdaya pertanian di daerahnya. Selain itu SMK juga harus membangkitkan minat generasi milenial untuk berprofesi di bidang pertanian juga perlu didukung dengan aplikasi teknologi informasi di bidang pertanian seperti pemanfaatan drone dalam kegiatan produksi pertanian atau monitoring terpadu terhadap rantai pasok produk pertanian.

Semoga bonus demografi Indonesia dapat menjadi berkah bukan musibah dan benar-benar mampu mewujudkan proyeksi kekuatan ekonomi Indonesia di tahun 2030 oleh berbagai pihak. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nailul Huda

Peneliti INDEF

FOLLOW US

Masih Banyak Problem Pembangunan Desa             Dana Desa Amanat Rakyat             Hasil Survei Capai Steady State, Pergerakan Semakin Flat             Survei Kompas Bukan Acuan Satu-satunya Kalah-Menang             Pemerintah Desa Mestinya Netral             Petahana Alami Kepanikan             Hoax Berpotensi Ganggu Kualitas Pemilu dan Demokrasi             Membangun Kembali Link and Match dan Revitalisasi BLK             Harus Serius Kembangkan Competitive Advantage             Perempuan yang Terlibat dalam Terorisme Merupakan Korban