BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Akademisi dan Praktisi Ekonomi Syariah
Skema Pembiayaan Syariah Di Tahun Krusial 2019

Outlook tahun depan pada 2019 bagi perkembangan ekonomi dan perbankan syariah secara umum dapat dipetakan sebagai berikut :

Pertama, tenor jangka waktu pembiayaan akan lebih panjang agar beban cicilan nasabah tetap, namun imbal hasil bank lebih tinggi.

Kedua, akad ijarah dan ijarah muntahiya bit tamlik (IMBT) yang memberikan fleksibilitas imbal hasil akan lebih diminati daripada murabahah.

Ketiga, pembiayaan konsumen beragun rumah tinggal akan lebih diminati bank karena bobot risiko yang lebih rendah sehingga dapat menghemat penggunaan modal.

Keempat, bagi hasil dana akan meningkat untuk mencegah larinya nasabah dana ke bank lain.

Tahun 2019 juga merupakan periode krusial bagi perbankan syariah karena:

Pertama, secara eksternal merupakan puncak terjadinya tekanan eksternal. Tekanan eksternal tahun depan dapat diidentifikasi menjadi tiga hal yakni kebijakan moneter yang lebih ketat, lalu tren pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, kenaikan tingkat bunga AS, dan terakhir ketiganya akan terefleksi pada kenaikan tingkat bunga acuan BI.

Kedua, tekanan ganda pada defisit neraca berjalan dan pada potensi net selling asing di pasar modal.

Dari dua hal ini yang dikawatirkan adalah faktor yang kedua. Data statistik menunjukkan bahwa dalam dua periode tahun pelaksanaan pilpres yaitu tahun 2009 dan 2014 terjadi kenaikan transaksi finansial yang sangat signifikan yang berasal dari kenaikan pada investasi portofolio.

Ketiga, tekanan ganda pada defisit neraca berjalan dan pada potensi net selling asing di pasar modal.

Di samping itu terdapat penyumbang Defisit Pendapatan Primer 2018 terdiri dari 55 persen Pendapatan Investasi Portofolio, 34 persen Pendapatan Investasi Langsung, dan 11 persen lainnya.

Keempat, likuiditas tertekan dan pertumbuhan kredit melambat. Pertumbuhan dana di tahun 2018 lebih kecil daripada tahun 2017. Penurunan terbesar terjadi pada pertumbuhan deposito yang turun dari 10,8 persen pada Agustus 2017 menjadi 3,4 persen pada Agustus 2018. Padahal pertumbuhan kredit naik signifikan pada periode yang sama dari 8,14 persen ke 12,7 persen.

Pengetatan likuiditas ini dan melambatnya pertumbuhan kredit akan berpotensi mendorong kenaikan kredit bermasalah. Rasio NPL tahun 2017 sebesar 2,59 persennaik menjadi 2,74 persen pada September 2018. Padahal, kenaikan NPL ini terjadi pada saat adanya kenaikan pertumbuhan kredit yang signifikan.

Padahal pula pada empat sektor penyumbang NPL terbesar telah mengalami perbaikan per Agustus 2017 ke Agustus 2018. NPL perdagangan besar dan eceran dari 4,42 ke 4,12 persen, industri pengolahan dari 3,7 ke 3,02 persen, properti 3,19 ke 2,51 persen, dan pertanian dari 1,92 ke 1,54 persen.

Artinya, pertumbuhan NPL lebih cepat daripada pertumbuhan kredit, dan perbaikan NPL di empat sektor itu dibarengi dengan pemburukan NPL yang lebih besar di sektor lain.

Pada tahun 2019 perbankan syariah akan menghadapi situasi pertama, kebijakan moneter ketat, suku bunga BI naik, suku bunga bank akan ikut naik. Kedua, Di tahun politik juga ada kenaikan transaksi modal dan finansial. Ketiga, terjadi situasi dimana kredit dan NPL meningkat dan likuditas menipis.

Bagi perbankan syariah, tekanan eksternal yang pertama dan ketiga membawa implikasi perlunya penyesuaian kebijakan bisnis. Kenaikan bunga BI yang berarti kenaikan bunga produk dana perbankan konvensional. Implikasinya, perbankan syariah akan menaikkan imbal bagi hasil produk dana agar tidak terjadi perpindahan dana dari bank syariah ke bank lain. Kenaikan ekspektasi bagi hasil yang lebih tinggi ini mendorong bank syariah untuk menaikkan imbal hasil pada produk pembiayaannya.

Tetapi jika perbankan syariah menaikkan imbal hasil pembiayaan, maka  akan berpotensi meningkatkan pembiayaan bermasalah di bank syariah karena kapasitas nasabah membayar cicilan stagnant akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi nasional.

Bagaimana solusinya? Salah satu solusinya, bank syariah akan menaikkan imbal hasil pembiayaan sekaligus memperpanjang jangka waktunya, sehingga besar cicilan nasabah tetap sama.

Nasabah tidak ada tambahan beban bunga cicilan bulanan, bank mendapat imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga dapat membayar bagi hasil dana yang kompetitif dibandingkan bank konvensional.

Implikasinya, makin panjangnya jangka waktu pembayaranadlah perubahan penggunaan akad murabahah menjadi akad ijarah atau akad lainnya yang memiliki fleksibiltas imbal hasil.

Tekanan eksternal pertama dan terutama tekanan eksternal kedua menyebabkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang terefleksi pada kenaikan bunga BI, dan fluktuasi rupiah.

Bagi perbankan syariah, keadaan turbulensi ini harus diantisipasi dengan penggunaan akad yang juga fleksibel.

Akibatnya, diprediksi pada tahun 2019 pembiayaan murabahah kurang diminati dibandingkan dengan ijarah dan lainnya. Perkecualian akan terjadi pada segmen mikro dimana akad  murabahah diprediksi akan tetap dominan karena kekhususanyang diberikan oleh fatwa tentang penggunaan akan murabahah pada pembiayaan ultra mikro. (pso)

 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional