BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penyintas kekerasan seksual, aktivis perempuan
Sistem Patriarki dalam Masyarakat Sudutkan Perempuan

Prostitusi online adalah bentuk praktis yang menjawab kemajuan teknologi. Mudah diakses, mudah bertransaksi. Jadi dalam hal ini baik VA maupun pengguna jasanya sama-sama consent atau sepakat. Terlepas ada mucikari atau tidak, ini tindakan permufakatan transaksi antara dua orang dewasa. Dari titik ada banyak hal yang bisa dibahas.

Dalam masyarakat dengan sistem nilai patriarki, tubuh perempuan adalah alat ukur moral. Oleh karenan itu, masyarakat patriarki merasa harus mengontrol tubuh perempuan lewat norma-norma, regulasi-regulasi, hingga UU berbasis budaya atau agama. Peraturan-peraturan yang dibuat oleh sistem nilai yang menguntungkan laki-laki, dari sudut pandang laki-laki dan ditetapkan kebanyakan oleh laki-laki.

Bagi perempuan yang tidak tunduk pada norma-norma atau aturan-aturan itu, dibuatlah hukuman yang kejam. Baik hukuman sosial seperti yang dialami VA, maupun hukuman yang dilembagakan menjadi resmi. Tujuannya memaksa perempuan tunduk dan menyerah pada norma-norma atau aturan-aturan patriarki, agar perempuan tidak punya otoritas atau kekuasaan atas tubuhnya sendiri. 

Bentuk-bentuk penundukkan dan hukuman sosial yang paling sering dipakai adalah dengan mempermalukan perempuan, melecehkannya secara terbuka agar gerak gerik di ruang sosialnya menjadi terbatas, akses ekonominya dimatikan, semua perannya di ranah publik dibuat sulit. Ini kejam sekali.

Inilah yang terjadi pada kasus VA. Pengguna jasa aman karena dia laki-laki, yang dianggap sebagau gender yang "boleh nakal". Disepakati (oleh masyarakat patriarki, termasuk aparat & media) sebagai gender yang wajar menjadikan perempuan sebagai objek seksual. 

VA dianggap tidak pantas menghargai jasanya dengan harga tinggi karen perempuan adalah objek seksual yang harus tunduk dan menurut. Termasuk menurut saja jika ingin didominasi secara seksual, baik melalui perkosaaan atau melalui komitmen-komitmen berelasi yang tak setara.

Aparat dan media menikmati sistem nilai patriarki karena bisa secara brutal menikmati tubuh VA yang dianggap telah melanggar aturan sosial. Tak ada hukum yang bisa melindungi VA dalam masyarakat patriarki ini. Hanya mereka yang mampu memanusiakan manusia yang bisa memberi perlindungan, dukungan dan semangat pada VA. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nailul Huda

Peneliti INDEF

FOLLOW US

Hasil Survei Capai Steady State, Pergerakan Semakin Flat             Survei Kompas Bukan Acuan Satu-satunya Kalah-Menang             Pemerintah Desa Mestinya Netral             Petahana Alami Kepanikan             Hoax Berpotensi Ganggu Kualitas Pemilu dan Demokrasi             Membangun Kembali Link and Match dan Revitalisasi BLK             Harus Serius Kembangkan Competitive Advantage             Perempuan yang Terlibat dalam Terorisme Merupakan Korban             Kelompok Radikal Di Indonesia Telah Bertransformasi             Anggaran Apel Kebangsaan Kurang Proporsional