BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)
Sikap Yusril Dipengaruhi Dimensi Politiknya

Yusril Ihza Mahendra punya dua dimensi: seorang profesional sekaligus politisi. Yusril bukan sekadar pengacara profesional, tapi dia juga punya posisi sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB). Menurut saya, bergabungnya Yusril ke Jokowi-Ma'ruf sebagai pengacara atas dasar dimensi politiknya, bukan semata dipengaruhi dimensi profesionalitasnya.

Sekalipun demikian, keputusan itu merupakan hak Pak Yusril. Entah dilakukan atas dasar profesional maupun politis, saya kira sah-sah saja Yusril mau menjadi pengacara Jomowi-Ma'ruf Amin. Meskipun secara politis masih ada pro-kontra di internal PBB terkait sikap dukungan Yusril terhadap kubu petahana. Terlebih, belum ada keputusan formal dari PBB untuk mendukung pasangan calon di Pilpres 2019.

Meski begitu, kesediaan Yusril menjadi pengacara Jokowi-Ma'ruf Amin, tentu akan memperkuat dari aspek hukum kepada kubu petahana. Tetapi kalau dilihat secara elektoral, Yusril tidak berpengaruh secara signifikan.

Saya kira, terlampau berlebihan jika kita menilai bergabungnya Yusril ke kubu Jokowi-Ma’ruf karena agenda punya politik tertentu. Apalagi, kalau penilaiannya hanya karena Yusril sering mengkritik Pemerintahan Jokowi. Sekalipun Yusril pernah berada pada posisi diametral dengan barisan Jokowi, saya kira itu bagian dari sikap politik Pak Yusril. Toh, itu sah-sah saja dalam demokrasi.

Artinya, ketika kebijakan Jokowi bertolak belakang dengan pandangannya baik dalam kapasitas dirinya sebagai pengacar maupun politisi, ya boleh-boleh saja Yusril mengkritik kebijakan Jokowi. Terlebih, yang kerap dikritik Yusril juga tidak hanya Jokowi. Pemerintahan SBY juga tidak luput dari kritik Yusril.

Dengan demikian, saya tetap melihat Yusril akan bertugas sebagai penasihat hukum TKN untuk memberikan pendampingan hukum maupun nasihat-nasihat terkait peraturan perundang-undangan kepada Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. Termasuk memberikan pembelaan pasca Pilpres 2019 (jika Jokowi-Ma’ruf Amin terpilih dan digugat ke Mahkamah Konstitusi oleh Prabowo-Sandi). Saya melihatnya, tugas ini yang akan dilakukan Yusril.

Jadi, pengaruh bergabungnya Yusril sebagai pengacara Jokowi-Ma’ruf untuk memperkuat TKN dari aspek hukum. Karena memang Yusril tidak berpengaruh signifikan secara elektoral. Toh, tanpa Yusril pun elektabilitas Jokowi-Ma’ruf masih tinggi, yang hingga kini belum terkejar oleh Prabowo-Sandi. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Bambang Budiono MS

Pengajar Antropologi Politik Fisip Unair

FOLLOW US

Layar Kaca dalam Ruang Demokrasi             Sebaiknya Ahok Cuti Politik Dulu             Ahok Seharunya Memainkan Peran dalam Politik Kebangsaan             Disparitas Kemiskinan Tinggi              Pertumbuhan Naikkan Pendapatan             Daerah Perbatasan Harus Outward Looking             Abu Bakar Ba’asyir Digoreng dalam Bungkus Politik             Pemerintah Belum Bisa Disalahkan             Pemerintah Seharusnya Tidak Perlu Terburu-buru             Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan