BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel
Sikap Provokatif Jika Menganalogikan Pilpres 2019 dengan Armageddon dan Baratayuda

Menjelang pilpres 2019 suasana politik dalam negeri semakin panas. Indikasi terjadinya krisis demokrasi semakin hari semakin nampak. Duel maut antar kubu Jokowi-Ma'ruf Amin dengan Prabowo-Sandi semakin gencar. Pertarungan ini bukan hanya melibatkan massa pendukung tetapi juga melibatkan konflik antar elite. Pernyataan demi pernyataan antar elit menyebabkan terjadinya polarisasi politik yang serius di tengah masyarakat dan tidak sehat bagi perkembangan demokrasi di tanah air. Pernyataan terakhir yang merisaukan seperti yang disampai oleh tokoh nasional, bapak reformasi Amien Rais yang mengibaratkan hari pencoblosan pada tgl 17 April 2019 sebagai Armageddon dan perang Baratayuda. 

Dia sampaikan pernyataan ini dalam forum konsolidasi di sela Muktamar XVII Pemuda  Muhammadiyah pada Rabu, 28 Nopember 2018. Kerisauan dan keprihatin muncul di masyarakat ini karena disampaikan oleh seorang tokoh nasional, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang sudah menyimpulkan peserta pilpres 2019 sebagai pertarungan antara kubu Kurawa (kekuatan jahat) dan kubu Pandawa (kekuatan baik) dalam cerita pewayangan Mahabarata. Dikotomi semacam ini jelas ditujukan kepada Kubu Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai kekuatan Kurawa melawan kubu Prabowo-Sandi sebagai kekuatan Pandawa karena Amien Rais sebagai pendukung pemenangan Prabowo-Sandi. 

Dalam Pilpres 2019 juga digambar sebagai Armageddon yang diartikan sebagai perang kemulian pada akhir zaman yang diwarnai huru-hara besar dan melahirkan kubu Pandawa yang dapat mematahkan dan menyingkirkan orang-orang jahat yang selama ini menjadi sumber masalah di tanah air yg menyebabkan terjadinya kemiskinan, kemelaratan dan keterbelakangan Indonesia selama ini. 2019. 

Sebelumnya tepat pada bulan november bulan lalu Amin Rais juga pernah menyatakan akan menjewer Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir jika tidak punya sikap politik dalam pilpres 2019. Pernyataan ini juga menimbulkan sikap pro-kontra di masyarakat yang menilai Amin Rais arogan dan ikut campur tangan kepada PP Muhammadiyah sebagai organisasi yang mandiri dan independensi. Padahal Amin Rais tahu bahwa organisasi Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan tahun 1912 merupakan Gerakan Islam untuk melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar untuk mewujudkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil-alamin.

Pernyataan demi pernyataan ini tidak baik bagi perkembangan demokrasi Indonesia. Sebagai bengawan ilmu politik Indonesia seharusnya Amien Rais memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa politik itu tidak seseram apa yg dibayangkan oleh masyarakat awam yang menganggap politik sebagai suatu yang licik, munafik dan liar. 

Oleh sebab itu dianjurkan untuk menghindarkan politik. Padahal setiap kegiatan manusia tidak lepas dari kegiatan politik. Dalam ilmu politik diajarkan tidak hanya  tentang kekuasaan tapi juga nilai. Ada nilai kebajikan dan keluhuran yang harus dimiliki bagi para pejabat politik yang diimplementasikan dalam integritas politik. Seorang pemimpin politik harus berusaha memberikan harapan yang besar kepada rakyatnya akan masa depan negaranya di tengah konfigurasi kekuatan dunia sekarang ini yang penuh dengan kompetisi dan kontestasi. 

Jika terdapat kesenjangan dan ketimpangan yang besar antara yang kaya dan miskin sekarang ini tidak semuanya disalahkan pada pemerintahan Jokowi-Kalla. Memang sebelumnya semenjak reformasi kita sudah kehilangan roh kita sebagai negara Pancasila. Hal ini akibat proses reformasi yang dilakukan mahasiswa dan aktivis hanya reformasi setengah hati dan tidak menyentuh hal-hal yang substantif seperti pengembalian hasil tindak pidana korupsi pada negara. Oleh sebab itu pernyataan Amien tentang Armageddon dan perang Baratayuda dalam Pilpres 2019 hanya sebagai ilusi seorang Amien Rais dan jika tidak ada intervensi dan pengaruh kekuatan asing, insha Allah Pileg dan Pilres 2019 akan berlangsung aman dan damai tanpa ada pertumpahan darah. Kita serahkan pada TNI dan Polri untuk mengamankan pesta demokrasi lima tahunan ini.

Siapa pun yangg menang jika proses demokrasi ini sesuai dengan prosedur yang dipersyaratkan oleh KPU sebagai penyelenggara pemilu harus diterima dan didukung. Kalahdan menang dalam pemilu adalah hal yang biasa karena demokrasi sesungguhnya adalah kompetisi dan kontestasi. Mudah-mudahan Pilpres 2019 berjalan aman dan damai dalam suasana suka cita demi Indonesia Jaya. (cmk)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang