BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
Siapkan dengan Serius Program-Program Bridging

Ron Adner dan Rahul Kapoor dari Darmuth College dan Wharton School of Business pernah membahas masalah disruption ini dalam Harvard Business Review tahun lalu dengan tajuk “The right tech, wrong time syndrome”.  Perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari karena sebagaimana ditulis oleh Klaus Schwab CEO World Economic Forum, kita telah memasuki “The Fourth Industrial revolution” yang berbeda dengan revolusi industri sebelumnya.

Revolusi industri keempat ini dicirikan dengan fusi dunia fisik, digital dan biologis yang mempengaruhi segala aspek kehidupan kita. Maka dalam menyikapi ini, mereka yang tidak siap akan menghadapi sindrom “right tech wrong time” tadi, dimana mereka berada pada situasi disruptif yang dicirikan ketidak siapan sistem lama mengadopsi teknologi baru.

Namun demikian perkembangan ini tidak selamanya harus disruptif, karena masih ada pola lain yang bisa kita ikuti yakni pola “Co-Existence”, atau  pola Resilience misalnya. Pada pola Co-existence sistem yang lama bisa saja beradaptasi dengan sistim yang baru yang saling menguntungkan dan perubahan ke teknologi baru berjalan secara gradual. Atau sebaliknya dengan pola resilience, dimana teknologi lama masih dibutuhkan dan teknologi baru memberi kesempatan dan ruang untuk mensubstitusi sistem lama.

Jadi menurut saya para pelaku ekonomi sejatinya mengambil posisi pada pola dua alternatif tadi kalau tidak ingin tergilas dengan pola “creative disruption”. Hal ini dilakukan dengan melakukan investasi jangka panjang pada sumber daya manusia dengan menekankan pada “enabling condition”, yakni kondisi yang membuka peluang untuk ko-eksis maupun bertahan.

Beberapa perusaan besar di negara maju misalnya selain melakukan re-training skill juga melakukan “in-bound” training untuk mengubah mind set pekerjanya. In bound ini akan menciptakan Enabling condition tadi karena memberikan ruang untuk berkreasi. Di sinilah kita memiliki kekurangan, karena sumber daya manusia saat ini makin dibelenggu dengan berbagai macam aturan dan persyaratan yang terkadang absurd, sehingga apalagi berkreasi, untuk menyelesaikan tugas rutinnya saja sudah terengah-engah.

Lalu apakah kita akan kehilangan lapangan pekerjaan? Jika kita mengikuti pola disruptif, jawabnya Ya. Sebaliknya jika kita mengikuti dua pola yang lain, maka lapangan pekerjaan baru bisa diciptakan bahkan yang lama masih bisa bertahan dengan proses adaptif yang saya sebutkan tadi.

Struktur pola pekerjaan akan bertransformasi dari fisik ke services atau pelayanan. Maka program-program bridging harus betul-betul disiapkan untuk trasformasi ini. Kita lihat bagaiman JR company (perusahaan Kereta di Jepang) melatih para pekerjanya dengan serius untuk urusan ini. Mereka memiliki ruang simulasi khusus misalnya untuk mentrainig karyawan bagaimana melayani pertanyaan pelanggan asing yang tidak faham berbahasa Jepang, atau tersasar, atau salah memasukan tiket.

Segala macam situasi terburuk yang berkaitan dengan layanan disimulasikan dan diantisipasi betul sejak awal. Dan ini tidak dilakukan di Indonesia ketika misalnya pelanggan dipaksa harus bayar tol non tunai di gerbang tol, sehingga menimbulkan gejolak di masyarakat dan kemacetan dimana-mana.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!