BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Aktivis Mahasiswa, Pelaku Bisnis sekaligus Pemerhati Sosial Budaya Nusantara
Siapa Peduli Anies Nyapres!

Sejujurnya saya enggan untuk berkomentar ketika diminta memberikan tanggapan atas artikel yang berjudul, “Akankah Anies Ikuti Jejak Jokowi?”, bukan soal Jokowi atau Anies dan semua nama yang disebutkan dalam artikel tersebut yang tidak urusannya dengan saya sebagai anak bangsa.

Sebagai rakyat, bagi saya nama-nama tersebut dengan segala aktivitas politiknya, cuma asyik bermain dengan logikanya sendiri dalam konteks perikehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara, dan bermain dalam logika politik yang silih rebut dan sandera, haus akan kekuasaan. Sesuatu yang sukar dipahami oleh akal sehat siapapun yang hingga saat ini masih berpedoman pada apa yang diamanatkan dalam Preambule UUD 1945.

Sebagai rakyat, saya hanya tahu bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Sementara fakta di lapangan membuktikan bahwa jelas jelas kita masih dijajah. Betapa tidak, hingga hari ini luas wilayah kita masih berdasarkan luasan wilayah eks Hindia Belanda bukan wilayah eks kerajaan kerajaan Nusantara yang disepakati pada pertemuan 39 Raja se Nusantara di Tampaksiring tahun 1927.

Sebagai rakyat, saya hanya tahu bahwa perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Lalu apa pentingnya bicara Jokowi, Prabowo, Anies atau siapapun jika faktanya hari ini kita masih belum merdeka, kita belum bersatu sebagai sebuah bangsa karena kita masih gemar saling menghujat karena mendukung capres yang berbeda, kita juga belum berdaulat karena siapapun yang terpilih jadi presiden masih harus mendapatkan restu dan dukungan dari negara negara asing. Dan pastinya kita belum adil dan makmur karena hukum jadi komoditi dagang yang bisa diperjual belikan, tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Yang terakhir, kita pastinya belum makmur karena bangsa dengan kekayaan alam yang melimpah ternyata masih harus impor bahan pangan.

Sebagai rakyat, saya hanya tahu bahwa atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Nyatanya kemerdekaan kita hanya secara administratif karena masih terjajah sebagai sebuah bangsa yang bahkan untuk bisa memegang ajaran leluhurnya sendiri dihalang halangi dan dituduh kafir. Pulau demi pulau lepas satu persatu, penjajahan  disambut dengan hamparan karpet merah atas nama investasi.

Sebagai rakyat, saya hanya tahu bahwa kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada  Pancasila.

Dari hal-hal di atas, jelas nyata bahwa pemerintah negara yang dibentuk telah gagal melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. Dan telah gagal memajukan kesejateraan umum, sekaligus juga itu artinya gagal mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga akhirnya gagal pula melaksanakan ketertiban di Indonesia dengan banyaknya pelanggaran terhadap harkat dan martabat manusia, gagal dalam mewujudkan perdamaian abadi di Indonesia dengan masih banyaknya konflik SARA, serta gagal menciptakan keadilan sosial karena masih tingginya jumlah kemiskinan dan jauhnya tingkat kesenjangan ekonomi.

Itu semua terjadi tak lain akibat dari penghianatan yang dilakukan terhadap Pancasila sebagai falsafah dasar perikehidupan bertanah air, berbangsa dan bernegara.

Pada konteks itu muncul pertanyaan kontemplatif di benak saya, lantas apa urgensinya membahas Anies atau siapapun elite saat ini yang berkontestasi dalam Pileg atau Pilpres?! Toh mereka hanya asyik bermasturbasi kekuasaan untuk kepuasan ambisi pribadinya sendiri.(ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF