BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.
Seperti Apa Guru yang Tidak Bakal Terdisrupsi oleh Teknologi?

Di era digital berbasis teknologi internet saat ini, ketika mayoritas manusia penghuni planet bumi berisi para generasi milenial, generasi Z, generasi Alpha dan para digital immigrant, peran guru, tak terkecuali di negeri kita, memang sedang dan terus menghadapi tantangan serius nan teramat hebat. Hal itu lantaran mesin teknologi berbasis internet dengan segala produk, platform, dan aplikasi turunannya, telah memudahkan banyak aspek kehidupan, tak terkecuali yang terkait dengan sektor pendidikan.

Teknologi berbasis internet dan pelbagai aplikasi yang menjadi turunannya telah berperan, diantaranya, sebagai sentra pengetahuan dan informasi nan kaya, baik berbentuk teks, gambar, audio visual maupun campuran semua itu, yang mudah diakses, enak dilihat, dan menyenangkan bagi penggunanya. Tentu saja hal itu setidaknya dalam derajat tertentu telah menggoyahkan keberadaan, bahkan kewibawaan, otoritas-otoritas pengetahuan klasik, diantaranya guru dan para pendidik secara umum.

Pernyataan bahwa peran guru tidak bakal tergantikan oleh mesin secanggih apapun, di satu sisi memang benar. Sebab ketika pendidikan dimaknai sebagai  proses membekali peserta didik menuju ke arah kemandirian,  kemampuan memaknai hidup dan menjalani hidup yang bermakna, serta kemampuan memuliakan hidup dan menjalani hidup mulia, maka hal itu hanya bisa dilakukan oleh para guru yang sungguh-sungguh sadar atas panggilan jiwanya mewujudkan tujuan itu, bukan oleh para guru di luar itu, apalagi oleh mesin meski secanggih apapun.

Mereka itulah para guru yang memiliki cinta, kehangatan, empati, sentuhan hati, tanpa lelah dan selalu panjang akal dalam memotivasi para peserta didiknya. Seraya senantiasa mengupdate pengetahuan dan mengisi ruh pelbagai pengetahuan yang ditransformasikan kepada para peserta didiknya dengan nilai-nilai luhur yang mampu memuliakan jiwa peserta didiknya.

Itulah para guru sejati yang tidak bakal terdisrupsi oleh teknologi secanggih apapun. Sementara guru yang tidak memiliki perspektif dan karakter seperti di atas, itulah para guru yang akan terdisrupsi kemajuan teknologi.

Meski mbah google dan engkong YouTube terus saja menjadi mesin raksasa yang mendominasi pencarian jawab atas pelbagai hal yang ingin diketahui, namun tetap saja itu adalah mesin tak berjiwa, tanpa hati, empati, cinta dan sisi kemanusian yang otentik. Ketika hubungan seorang pelajar dengan mesin semakin dalam dan intens. Maka keterampilan sosialnya pun akan terus tergerus bahkan lenyap, dan keterampilan berempati dan mengapresiasi orang-orang sekitarnya pun menjadi rendah. jadilah ia manusia yang tidak peduli apapun di luar dirinya kecuali mesin canggih kesayangannya.

Begitu juga dengan pelbagai aplikasi bimbel online yang marak menyasar para pelajar,  yang kemunculannya mengisi ruang-ruang kosong kebutuhan praktis yang diharapkan sebagian peserta didik, yang penyelenggaraannya menekankan pada aspek komersial. Pelayanannya tertuju pada yang membayar. Lebih terfokus pada cara penyelesaian soal-soal pelajaran yang dianggap sulit dan diperkirakan bakal keluar saat ulangan atau ujian. Menurut saya, guru-guru virtual dalam aplikasi android sangat jauh untuk bisa diharapkan berperan dalam merangsang dan melatih pembentukan karakter mulia para peserta didik. 

Para guru sejati, baik itu guru negeri maupun swasta, yang telah teruji menjalani perspektif tujuan pendidikan sebagaimana di singgung di awal, sekaligus mereka senantiasa memancarkan karakter-karakter mulianya kepada peserta didiknya, maka negara wajib memberikan apresiasi dan kesejahteraan yang memadai terhadapnya.

Namun kepada guru yang masih lemah dalam mempraktikkan perspektif tujuan pendidikan yang meluhurkan peserta didiknya, maka pemerintah punya tanggung jawab mengasah dan menggenjot pemahaman dan keterampilannya lewat serangkaian pendidikan dan pelatihan yang terarah. Sehingga mereka pun, diantaranya, bisa memiliki dan mahir menggunakan seperangkat metode pembelajaran yang  kreatif dan menarik yang mampu diterapkan kepada peserta didik kalangan pribumi digital.

Serta kewajiban dan tanggungjawab pemerintah pula untuk selalu memastikan tidak ada satu orang guru pun  di negeri kita yang nasibnya terkatung-katung. (ast)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang