BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru besar dan Ketua Program Studi Doktor ilmu ekonomi di Fakultas Ekonomika & Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Selesaikan PR Rantai Ekspor, Ekonomi Biaya Tinggi (2)

Untuk mengatasi masalah defisit transaksi berjalan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, diantaranya menerapkan Pajak Penghasilan (PPh Pasal 22) untuk 1.147 komoditas, mandatori penggunaan biodisesel 20 persen untuk mengurangi penggunaan solar agar mampu menghemat impor  2,2 miliar dolar AS dalam 4 bulan kedepan. Disamping itu, upaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di berbagai lini industri, menggenjot pendapatan devisa dari sektor pariwisata untuk mengeruk devisa dari wisatawan mancanegara.

Dalam otoritas moneter, sejumlah langkah dilakukan BI untuk menjaga stabilitas rupiah. Terkait ini, melalui UU No. 6/2009 memberi mandat kepada BI menjaga kestabilan nilai rupiah dengan menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (inflation targeting framework) dengan menganut sistem nilai tukar mengambang.

Pemerintah perlu memprioritaskan sejumlah pekerjaan rumah terkait dengan rantai ekspor dan sejumlah faktor penyebab ekonomi biaya tinggi. Di antaranya  biaya mengurus kontainer di pelabuhan masih tertinggi di Asean, pungli, dan industri dihadapkan pada tingginya kandungan impor bahan baku, bahan antara, dan komponen untuk seluruh industri sebesar 28-90 persen.

Sebesar 80 persen ekspor nonmigas adalah produk industri manufaktur maka industri perlu diarahkan untuk mewujudkan industri yang berdaya saing. Juga mengaitkan pengembangan industri kecil dan menengah, menciptakan struktur industri yang sehat, percepatan pengembangan industri di luar Jawa.

Menghapus 93,39 persen pos tarif, 6.683 dari 7.156 pos tarif di jalur normal dan bahkan 100 persen tahun 2012. Rencana pemerintah untuk meningkatkan bea masuk produk impor perlu dikaji lebih mendalam, apalagi jika produk impor ini digunakan sebagai bahan baku utama industri dan UKM seperti kedelai, kapas, gula, perak, dan bijih besi. (sar)

Dikutip dari status di FB atas seijin penulis.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Anang Zubaidy, SH., MH

Kepala Pusat Studi Hukum FH UII

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

FOLLOW US

KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha             Tunggu, Mas             Yang Tak Siap Menang Cuma Elit Politik, Rakyat Tenang Saja             Ikhtiar Berat Tegakan Integritas Pemilu             Kedaulatan Rakyat Dibayang-bayangi Money Politics             Tiap Orang Punya Peran Awasi Pemilu             Jangan Lecehkan Kedaulatan Rakyat             Selesaikan Dulu Sengkarut Harga Tiket Pesawat