BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF
Selesaikan Dulu Sengkarut Harga Tiket Pesawat

Pembentukan holding BUMN nampaknya masih menjadi andalan Kementerian BUMN untuk merestrukturisasi BUMN sehingga lebih efisien dan lebih optimal dalam hal produksi. 

Hal ini bagus namun perlu diperhatikan pula kondisi BUMN dan tujuan dari adanya BUMN yang akan digabungkan. BUMN yang sehat (efisien dan mempunyai eksternalitas positif) diharapkan dapat menularkan kinerjanya kepada BUMN yang akan menjadi holdingnya.

Saat ini ada wacana untuk penggabungan BUMN bidang penerbangan. BUMN Penerbangan di Indonesia adalah PT Survai Udara Penas (Penas), PT Angkasa Pura I (AP I), PT Angkasa Pura II (AP II), PT Garuda Indonesia Tbk (Garuda), PT Pelita Air Services (Pelita Air), Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav).

Perusahaan holding yang ditunjuk adalah PT Penas. Kinerja PT Penas sendiri masih mencatatkan kinerja yang buruk dengan catatan kerugian dan kinerja ekuitas yang masih minus. Bayangkan ketika BUMN yang sakit menjadi leader dari BUMN yang besar, maka sangat wajar kita meragukan kemampuan PT Penas untuk membawa holding BUMN Penerbangan menjadi efisien dan memiliki eksternalitas positif ke masyarakat.

Sejatinya, penggabungan BUMN Penerbangan meninggalkan pertanyaan. Penggabungan ini akan menimbulkan bias posisi antara PT Angkasa Pura sebagai operator bandara dengan PT Garuda Indonesia Tbk sebagai konsumen jasa bandara. Hal ini akan menimbulkan posisi dominan ke BUMN Penerbangan khususnya PT Garuda Indonesia Tbk dalam industri maskapai domestik nasional. 

Bisa jadi ini akan menimbulkan integrasi vertikal dalam industri penerbangan karena berada di bidang produksi yang sama namun beda level tingkatan produksi.

Daripada membahas holding BUMN Penerbangan, alangkah baiknya pemerintah menyelesaikan terlebih dahulu permasalahan harga tiket yang saat ini masih mahal. PT Garuda Indonesia Tbk sebagai salah satu (dari dua) maskapai domestik terbesar di Indonesia disinyalir ikut terlibat dalam dugaan praktik duopoli dan kolusi penetapan harga tiket. Bahkan pemerintah dinilai membuat peraturan yang semakin membuat duopoli industri penerbangan semakin leluasa menetapkan harga di batas harga atas alih-alih menurunkan harga. 

Adanya penggabungan BUMN Penerbangan, akan menurunkan kembali insentif perusahaan maskapai lain yang ingin masuk ke pasar penerbangan domestik. Padahal masuknya perusahaan lain bisa menurunkan tingkat konsentrasi dan menyehatkan persaingan usaha di industri penerbangan domestik. 

Satu-satunya pesaing duopoli (Air Asia) tidak memilki lagi celah untuk merusak dominasi duopoli industri penerbangan domestik. Alhasil duopoli semakin kuat.

Maka dari itu, diharapkan dugaan kartel tersebut harus dijawab oleh pemerintah terlebih dahulu dibandingkan wacana holding BUMN Penerbangan. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan