BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Secara Tradisional, Jabar Bukan Milik PDI Perjuangan

Tidak ada istilah strong voters. Strong voters itu adalah pendukung atau suporters. Nah, yang disurvei voters/pemilih atau pendukung. Ini yang disurvei masuk kategori pemilih. Secara tradisional, Jabar itu milik Golkar atau PPP, bukan PDI Perjuangan. Dulu Golkar menang 80-90 persen di Jabar, kemudian bergeser sebagian suara ke PPP dan lainnya.

Penduduk Jabar, dari dulu sama saja. Jika pilihannya bergeser, orang yang memilih tetap sama, tidak banyak mengalami perubahan. Demikian pula di daerah lain, sama saja. Misalkan di Bali, dulu Golkar selalu unggul, sekarang PDI Perjuangan. Mengapa bisa demikian? Saya kira, karena orang-orang yang dulu ada di Golkar, pindah ke PDI Perjuangan.

Nah, Jabar menjadi critical point untuk PDI Perjuangan. Di Jabar, bisa dikatakan PDI Perjuangan tidak pernah. Jika di Papua Jokowi yang diusung PDI Perjuangan bisa menang 90 persen. Bahkan kata orang Papua kalau tidak percaya Jokowi menang 90 persen, mari kita ulang biar Jokowi menang 120 persen. Itu di Papua, tapi belum tentu di Jabar seperti itu.

Namun bagi saya, ketika pengumuman Jokowi-Ma’ruf, itu pertandingan sudah selesai. Tim Prabowo-Sandi ini, Cuma bisa berusaha memperkecil kekalahan pada Pilpres 2019 nanti. Namun, ini bisa jadi sangat berbahaya jika para partai pengusung, bersantai-santai.

Harus dicatat bahwa yang bergerak aktif itu bukan partai, tapi relawan dan network-nya. Nah kalau kita lihat, relawan ini ngawur semua. Kita tahu perangnya itu kacau. Terutama lewat sosmed, perangnya frontal segala macam dipake.

Satu lagi yang harus dicatat, program itu tidak selalu linier dengan afiliasi politik yang lain. Responden bsia menilai programnya bagus semua, tapi begitu ada isu Jokowi PKI, Jokowi pro-China. Itu semua kekaguman yang programatik, bisa runtuh. Catat, dari afiliasi etnik misalnya, Jabar itu tertinggi. Untuk melawan isu, dibutuhkan isu lain untuk mengcounter.

Saya heran mengapa tidak ada kampanye-kampanye dari PDI Perjuangan yang melakukan counter isu dengan mengangkat sejarah bahwa gagasan-gagasan besar Bung Karno itu lahirnya dari Jabar. Ini akan sangat mendorong afiliasi non programatik. Berikan lah contoh, seperti nama Marhaen itu istilah yang diambil Bung Karno dari nama petani di Jabar.

Dia punya modal kerja keceil-kecilan, tapi dia bukan kapitalis atau bukan juga proletar. Jika gagasan-gagasan sperti ini lahirnya di Jabar, dan mau lagi dipraktikan, pemilih Jabar mungkin bisa memberikan suara kepada PDI Perjuangan dan Jokowi. Ini bisa juga dipake oleh kubu Prabowo, karena Prabowo menanggap dirinya titisan Bung Karno, pake cara yang sama.

Saya kira itu lebih efektif di pake di Jabar, ketimbang programing tadi. Orang Jabar itu, kalau yang satu Sunda, yang satu non Sunda, sudah pasti yang dipilih yang Sunda. Meski pun jelek gitu, tetap saja yang dipilih yang Sunda. Jadi bisa saja PDI Perjuangan bilang, Jokowi itu keturunan Sunda, darahnya ada juga Sunda, 500 tahun yang lalu. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Bambang Budiono MS

Pengajar Antropologi Politik Fisip Unair

FOLLOW US

Layar Kaca dalam Ruang Demokrasi             Sebaiknya Ahok Cuti Politik Dulu             Ahok Seharunya Memainkan Peran dalam Politik Kebangsaan             Disparitas Kemiskinan Tinggi              Pertumbuhan Naikkan Pendapatan             Daerah Perbatasan Harus Outward Looking             Abu Bakar Ba’asyir Digoreng dalam Bungkus Politik             Pemerintah Belum Bisa Disalahkan             Pemerintah Seharusnya Tidak Perlu Terburu-buru             Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan