BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Secara Normatif Asian Games akan Meningkatkan Konsumsi dan PDRB Daerah

Kalau kita bicara Asian games tentu secara normatif pasti memiliki dampak langsung terhadap perekonomian baik daerah maupun nasional. Karena yang menjadi tuan rumahnya adalah dua daerah yakni Palembang dan Jakarta tentu seharusnya dua provinsi ini mendapatkan selain benefit juga profit. Tentu saja pada penerimaan daerahnya.

Selain itu juga mestinya muncul sektor-sektor atau industri-industri kreatif dan juga kaitannya dengan pariwisata. Jika terkait event Asian Games, tentu yang terkait adalah industri-industri yang terkait dengan event tersebut. Hanya saja permasalahannya, apakah event itu direspon oleh sektor-sektor industri tersebut dengan sebaik mungkin? Atau bahkan sudah bisa menghitung berapa akuntabilitas dan profitabilitas dari event itu terhadap profit yang akan didapat. Termasuk juga untuk konsumsi masyarakat di daerah. Hal-hal itu yang harus diperhatikan benar oleh dua daerah itu.

Demikian pula untuk dampak ekonomi bagi daerah yang dikategorikan sebagai dampak “first round effect” dan dampak “second round effect” bagi daerah bersangkutan. Untuk dampak “first round effect” itu akan langsung dirasakan oleh wilayah itu yakni pembangunan dan perbaikan infrastruktur. Kemudian euphoria dari masyarakat terkait penyediaan sarana prasarana, dan juga terkait kebutuhan-kebutuhan dari industri kreatif untuk kegiatan Asian Games itu sendiri.

Yang kedua untuk “second round effect”, adalah ihwal 'efek pengganda' terhadap perekonomian daerah dalam penciptaan lapangan kerja, atau meningkatkan produktivitas kerja, pertumbuhan ekonomi, dan juga peningkatan pendapatan masyarakat. Nanti ujungnya ke PDRB di daerah.

Semestinya yang first round effect itu yang benar-benar bisa dirasakan oleh industri atau sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan event ini. Contohnya tadi yang saya sebut pariwisata, industri kreatif, atau industri kecil menengah (IKM). Tentunya itu semua seharusnya dapat diberdayakan dengan local wisdom atau sumber daya kearifan lokal yang diberdayakan.

Hanya sekarang, sepertinya euphoria Asian Games belum tampak muncul ke masyarakat. Kalau dari sisi marketing memang nampak dari media sosial, televisi dan lain-lain. Hanya saja kita harus lihat bagaimana partipasi masyarakat terhadap event besar ini? Ini “PR” bagi pemerintah daerah.

Seharusnya, kalau partisipasi masyarakat nya naik dari sisi produksi—artinya dari IKM atau industri besar—itu kan butuh gimmick-gimmick kegiatan. Katakanlah butuh kaos, kerajinan tangan dan lain-lain sebagai cindera mata dari Palembang, Jakarta atau juga dari daerah-daerah lain dengan kerjasama antar daerah. Tapi yang aneh, sekarang kok tidak terlihat yang seperti itu. Ini ada apa?

Seharusnya dari jauh hari sudah dipersiapkan serius. Meskipun DKI Jakarta sudah mempersiapkan untuk wisma atlet banyak dipersiapkan dan lainnya.

Perhitungan kami, kalau misalnya Asian Games ini betul-betul dipersiapkan dan sesuai dengan perencanaan yang sangat baik, itu bisa menghasilkan cukup besar bagi PDRB Jakarta. Untuk Jakarta saja, PDRB bisa didapat sekitar Rp15 triliun sampai Rp16 triliun. Jadi analisis kita menggunakan analisa perhitungan ekonomi antar regional sekitar itu. Akan ada peningkatan signifikan terhadap PDRB Jakarta. Dari investasi biaya Asian Games tentunya akan ada margin signifikan dari situ. Kemudian akan ada peningkatan konsumsi masyarakat juga. Kesempatan kerja juga otomatis terbuka.

Jika sektor-sektor industri kreatif masyarakat didorong saja, misalnya hasil kerajinan tangan khas Jakarta maka akan nampak signifikan hasilnya. Bahkan daerah lain juga bisa ikut berpartisipasi. Jadi bukan hanya hajat Jakarta dan Palembang saja, tapi hajat dari seluruh bangsa Indonesia. Kalau itu terjadi maka akan ikut mendorong peningkatan ekonomi daerah-daerah. Sektor rekreasi, hiburan juga akan terdorong semakin baik.

Oleh karena itu seharusnya secara normatif Asian Games ini akan meningkatkan konsumsi masyarakat dan PDRB. Hanya persoalannya apakah kondisi itu akan terjadi di tengah beratnya kondisi perekomian saat ini? (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional