BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua TIM Kesehatan Relawan Jokowi-Ma'ruf
Saatnya Negara Tegas Membasmi Teroris

Tak kurang dari seminggu, dua peristiwa berdarah berkaitan dengan terorisme telah mencabut nyawa manusia dan mencabik rasa kemanusiaan kita. Dua peristiwa itu membuktikan bahwa masyarakat akan terus diteror oleh kelompok-kelompok kriminal radikal bersenjata untuk menjadikan Indonesia sebagai "medan perang".

Modus mengebom gereja untuk mengadu domba antar pemeluk agama merupakan cara yang masih dianggap efektif. Modus lainnya seperti membuat kerusuhan di simbol keamanan negara dan memainkan hoax via media sosial.

Dua peristiwa itu juga membuktikan bahwa jaringan teroris dan kelompok radikal bersenjata masih sangat terorganisir. Sel sel tempur mereka masih aktif dan ditopang sel sel yang bergerak di dalam tubuh masyarakat. Sel sel yang bergerak ditengah masyarakat seperti sel kanker yang secara perlahan meracuni anggota masyarakat dengan berbagai isu, mulai dari issue pemerintahan thogut yang harus dilawan sampai isu pelanggaran HAM oleh Polri, khususnya Densus 88.

Menghadapi jaringan teroris seperti ini, pemerintah sudah seharusnya bertindak cepat, tegas dan tidak ragu demi menjaga keamanan negara. Apalagi teror termasuk katagori extraordinary crime (kejahatan luar biasa), sehingga harus ditangani dan ditanggulangi secara luar biasa pula. Tindakan preemtive strike diperbolehkan dalam menangani terorisme sehingga ketika didapat data intelijen kualifikasi A1 mengenai rencana teror oleh kelompok kriminal bersenjata atau teroris, maka aparatur keamanan dan pertahanan negara diperkenankan  menyerang untuk menggagalkan rencana teror tersebut.

Memang UU Terorisme masih kurang sempurna, tapi ada prinsip-prinsip penanganan terorisme yang berlaku secara universal. Sebenarnya, kita punya unit-unit anti teror yang ada di institusi pertahanan (TNI) yang bisa juga digerakkan sebagai mitra aparatur keamanan  negara (Polri) dalam membasmi terorisme.

Pasca kasus di Mako Brimob, Depok, seharusnya Badan Intelejen Nasional (BIN) sudah mendapat informasi atau minimal menganalisa pergerakan kelompok teroris ini, lalu melakukan preemptive strike.

Kita menyesalkan dan mengutuk tindakan teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, serta berduka cita kepada para korban. Tapi tentunya kita dan negara tidak berhenti hanya pada penanganan setelah teror terjadi. Bahkan yang lebih penting adalah tindakan hukum dan tindakan koersif untuk membasmi jaringan teroris dan kelompok radikal yang menginginkan negara ini kacau. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan