BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
Rupiah dan Permasalahan Struktur Pembiayaan

Di tengah pesimisme yang melingkupi hampir semua pelaku ekonomi sejak awal tahun, nilai tukar rupiah tanpa disangka selama tiga minggu terakhir mengalami penguatan yang drastis. Pada awal November nilai rupiah masih  di level Rp15.200 per dolar AS. Hari ini, 29 November, rupiah sudah berada di level Rp14.350 per dolar AS, atau menguat besar kurang lebih 5,6 persen. Penguatan yang begitu besar dan tiba-tiba menimbulkan banyak pertanyaan. Apa yang menyebabkan rupiah bisa menguat begitu besar dan begitu cepat? Apakah penguatan ini mengindikasikan adanya perbaikan di struktur ekonomi? Apakah akan sustain?

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab penguatan rupiah selama tiga minggu terakhir. Faktor-faktor tersebut bisa kita kelompokkan menjadi dua. Pertama, yang kita sebut faktor-faktor pendorong (push factors) yaitu berupa sentimen negatif atas kondisi perekonomian Amerika. Kita ketahui bahwa seiring meningkatnya intensitas perang dagang AS vs China pertumbuhan ekonomi AS justru mengalami perlambatan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan direspons oleh The Fed dengan menunda kenaikan suku bunga. Perkiraan ini semakin diperkuat dengan adanya sinyal Gubernur the Fed baru-baru ini untuk tidak menaikkan suku bunga acuan the Fed pada Desember yang akan datang. Perlambatan pertumbuhan AS ditambah penundaan suku bunga the Fed membuat para investor global mulai mengalihkan dana investasinya ke negara-negara yang dianggap memiliki prospek keuntungan terbesar ke depan.

Kedua, faktor-faktor yang menarik masuknya aliran investasi ke Indonesia atau disebut pull factors. Di saat investor asing berniat mengalihkan investasinya, beberapa indikator ekonomi Indonesia menunjukkan prospek keuntungan yang menarik bagi investor. Prospek keuntungan ini ditunjukkan oleh yield SBN yang sudah demikian tinggi dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 175 bps sejak Mei yang lalu, serta harga saham yang sudah demikian murah (diindikasikan oleh PER yang rendah). Prospek investasi di Indonesia diperkuat oleh trend penurunan harga minyak selama sebulan terakhir. Penurunan harga minyak diyakini akan memperkuat neraca perdagangan sekaligus mengurangi beban APBN.

Kombinasi push factors dan full factors di atas menyebabkan aliran modal asing dalam bentuk portfolio mengalir deras ke Indonesia dan mendorong penguatan rupiah secara drastic dan cepat.

Namun demikian, penguatan rupiah tersebut bisa dipastikan rentan dan sewaktu-waktu Rupiah bisa kembali melemah. Aliran modal asing dalam bentuk portfolio atau lebih sering disebut sebagai hot money sangat rentan terhadap isu global dan domestik. Pembalikan secara tiba-tiba (sudden revearsal) bisa terjadi sewaktu-waktu dan bila itu terjadi Rupiah akan kembali terpuruk.

Untuk mendapatkan penguatan rupiah yang stabil dan berkelanjutan diperlukan perbaikan di struktur ekonomi kita khususnya di struktur pembiayaan. Saat ini pembiayaan perekonomian kita didominasi oleh utang luar negeri baik oleh pemerintah maupun swasta. Sekitar 40 persen utang pemerintah adalah utang luar negeri. Sementara jumlah utang LN swasta sudah sama besarnya dengan utang luar negeri pemerintah. Di pasar surat berharga, sekitar  40 persen SBN dan saham dimiliki asing. Oleh karena itu wajar bila Rupiah sangat rentan terhadap pergerakan pemodal asing.

Selama persoalan struktur pembiayaan ini masih belum diperbaiki, siapapun rezim yang berkuasa, rupiah masih akan rentan terhadap dolar. Perbaikan struktural ekonomi harus dimulai. Pemenang Pemilu 2019 hendaknya menjadikan ini sebagai prioritas. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung