BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru besar dan Ketua Program Studi Doktor ilmu ekonomi di Fakultas Ekonomika & Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Rupiah Terpuruk di Atas Struktur Ekonomi Tak Sehat (1)

Terpuruknya nilai rupiah dan anjloknya Indeks Harga Sahan Gabungan (IHSG) karena  struktur ekonomi Indonesia yang sejak lama tidak sehat. Meski sempat diberi obat oleh IMF, namun tidak ampuh dan nampaknya masih perlu menambah obat lagi agar mampu menyembuhkan Indonesia dari penyakit kronis.

Melemahnya rupiah dan IHSG tentu perlu dicari akar masalahnya. Faktor ekternal sesungguhnya hanyalah pemicu, karena sumber penyakit kronis yang membikin struktur ekonomi  tidak sehat itulah yang perlu diprioritaskan dan kemudian dipilih obatnya.

Tanpa ada kenaikan bunga di AS pun, neraca perdagangan dan transaksi berjalan yang tidak sehat telah mengakibatkan pelemahan rupiah. Jika tidak ada perubahan mendasar kebijakan makro dan sektoral, maka ancaman krisis di pasar modal dan valas, cepat atau lambat akan merembet ke semua sektor, termasuk tradisional dan Usaha Kecil Mikro (UKM).

Penyakit kronis yang menggerogoti ekonomi Indonesia dan membuat tidak sehat adalah defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan yang terus berlanjut. Posisi defisit transaksi berjalan (current account deficit) di kuartal II tahun 2018 sebesar  8 miliar dolar AS atau 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka ini membengkak dibandingkan triwulan IV 2017 yang 5,8 miliar dolar AS (2,2 persen dari PDB), apalagi pada triwulan IV 2016 hanya  1,8 miliar dolar AS (0,7 persen dari PDB). Meningkatnya defisit ini diakibatkan oleh menyusutnya surplus neraca perdagangan nonmigas serta meningkatnya defisit neraca perdagangan migas dan neraca jasa.

Sementara, surplus neraca perdagangan nonmigas menurun karena impor nonmigas meningkat melampaui peningkatan ekspor nonmigas. Defisit neraca perdagangan migas meningkat, terutama didorong oleh peningkatan impor minyak yang lebih besar dari peningkatan ekspor minyak.

Kenaikan defisit neraca jasa terutama dipengaruhi oleh peningkatan defisit jasa transportasi seiring kenaikan impor barang.

Terjadinya defisit transaksi berjalan karena didorong oleh terus menurunnya ekspor akibat pelambatan ekonomi global, penurunan tajam harga komoditas global di tengah masih tingginya impor, baik migas maupun nonmigas. Selain itu, adanya pembayaran bunga utang yang cukup besar sejak triwulan II-2013.

Akhir Mei 2015, cadangan devisa sebesar  110,77 miliar dolar AS, yang ekuivalen dengan 7, 1 bulan impor. Bandingkan dengan posisi cadangan devisa akhir Juni 2018 yang tercatat  118,06 miliar dolar AS, yang menurun dibandingkan dengan posisi akhir Januari 2018 yang mencapai 131,98 miliar dolar AS. (sar)

Dikutip dari status di FB atas seijin penulis.

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Kartu Nikah Tidak Diperlukan             Penggunaan Pembayaran Online Harus Memiliki Regulasi             Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi