BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI
Rupiah Capai Keseimbangan Baru, Waspadalah !

Perihal apakah Rp15.000 per dolar AS itu adalah keseimbangan baru rupiah atau tidak, jawabannya adalah: iya. Karena menurut model atau simulasi yang saya kerjakan itu memang mengkonfirmasi bahwa ke depan rupiah akan berada di equilibrium yang baru, dan equilibrium yang baru ini atau titik keseimbangan baru ini terus berubah relatif terhadap kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Juga, relatif terhadap perbedaan produktivitas dari Indonesia ke negara-negara lain. Jadi dalam konteks nilai tukar, memang telah terjadi perubahan keseimbangan.

Nah, apakah keadaan itu aman? Menurut saya hal itu terhitung masih aman, karena masih di dalam kisaran 10 persen. Artinya, depresiasinya masih termasuk belum sangat parah. Meskipun demikian, kita masih harus terus waspada karena depresiasi yang persisten akan menyebabkan juga hambatan dari pertumbuhan ekonomi. Karena sekali lagi menurut simulasi saya depresiasi ini pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi di 2018 dan 2019.

Jadi pada 2018 kuartal III ini, sebagai akibat dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pertumbuhan ekonomi kita justru turun menjadi 5,07-5,08 persen. Artinya masih lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II yaitu 5,27 persen. Adapun di kuartal ke IV saya juga melihat masih adanya tren depresiasi sebagai akibat dari adanya rencana the fed yang akan menaikkan sukubunganya lagi di akhir tahun, hal itu juga akan menekan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2018 akan berada di level 4,89 persen atau maksimum 5,05 persen.

Dengan demikian, pada 2018 ini kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi kita hanya tumbuh di bawah 5,1 persen. Masih di bawah target pemerintah yang 5,2 persen.

Meskipun kondisi sekarang kami anggap belum terlalu mengkhawatirkan, tetapi kondisinya ke depan akan membuat tren pertumbuhan ekonomi maupun juga trend dari produksi akan terhambat karena depresiasi rupiah ini berpengaruh terhadap proses poduksi. Hal mana komponen terbesar produksi berasal dari impor. Sebagaimana diketahui 90 persen impor kita adalah komponen barang produksi. Hal itu kemungkinan besar akan meningkatkan ongkos produksi. Hal itu adalah channel dimana kemudian pertumbuhan ekonomi kita diproyeksikan melambat.

Ihwal ‘stamina’ Bank Indonesia (BI) menghadapi gejolak moneter seperti ini, saya kira BI sudah melakukan segala cara. Cuma sekarang isunya lebih pada ekspektasi. Jadi selain masalah fundamental ekonomi, isunya adalah ekspektasi.

Dulu ketika sukubunga di AS itu rendah, para investor terutama investor jangka pendek atau hot money meminjam di AS dalam bentuk mata uang dolar AS dengan sukubungan rendah yang hampir nol persen, lalu dari situ kemudian ke Indonesia dikonversikan ke rupiah. Lalu masuk ke pasar saham/obligasi dimana sukubunganya jauh lebih tinggi. Kemudian ketika proses normalisasi terjadi di AS ketika sukubunga the fed dinaikkan secara persisten.

Kedua, terjadinya cycling up atau terjadinya pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di AS—yang berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi di emerging market—menyebabkan investor melihat pasar uang di AS sebagai “safe heaven”, maka mereka segera beralih ke AS dan tidak perduli berapapun naiknya sukubunga acuan dan intervensi oleh BI, mereka tetap memilih untuk memegang dolar AS karena memang tengah terjadi tren normalisasi di AS. (pso)     

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas             Ironi yang Tak Pantas Dibiarkan Berulang             Pemerintah Harus Tunjukan Penggunaan Utang  Secara Produktif             Strategi Menjawab Permasalahan Industri Pertanian di Indonesia             Kelaparan Tidak Mengherankan, karena Garis Kemiskinan Terlalu Kecil.