BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta
Revisi Pajak Impor PPh Pasal 22 Solusi Mengurangi Tekanan Defisit Neraca Transaksi Berjalan?

Ekspektasi penguatan dolar AS akan semakin besar jika fundamental besaran variabel makro yang mempengaruhi nilai tukar tidak begitu baik. Meningkatnya defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan akan memperlemah rupiah. Dengan mengurangi defisit tersebut permintaan dolar AS akan menurun dan pada neraca transaksi berjalan yang selalu defisit selain menurunkan kredibilitas pengelolaan ekonomi juga berpotensi memperlemah nilai tukar suatu negara.  Pemerintah melakukan kebijakan fiskal dengan merevisi Pajak Impor PPh Pasal 22. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan. Meningkatnya defisit tersebut merupakan cerminan permintaan dolar AS yang semakin meningkat pada gilirannya secara struktural melemahkan rupiah dalam jangka menengah dan panjang.

Revisi Pajak Impor PPh Pasal 22

Sebanyak 719 jenis barang mengalami kenaikan tarif PPh dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Sejumlah barang yang masuk dalam kelompok tersebut  dapat digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya. Di antaranya seperti keramik, ban, produk tekstil, hingga perlengkapan elektronik. Terdapat 218 jenis barang lainnya merupakan barang konsumsi yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri, seperti shampo, lampu, dan kosmetik, yang dinaikkan  dari  2,5 persen menjadi 10 persen. Sebanyak  210 jenis barang mewah, seperti mobil impor utuh dan motor besar yang mengalami kenaikan  dari 7,5 persen menjadi 10 persen. PPh Pasal 22 untuk mobil mewah yang tadinya di kisaran 2,5-7,5 persen naik menjadi 10 persen. Pengenaan tersebut bukanlah satu-satunya, mengingat ada juga Bea Masuk, PPN, PPh, dan PPnBM.

Defisit Neraca Transaksi Berjalan dan Impor Indonesia

Berdasarkan data BPS, impor bahan baku penolong Januari 2018 masih mendominasi total impor mencapai  11,29 miliar dolar AS. Adapun impor barang modal dan konsumsi, masing-masing mencapai  2,49 miliar dolar AS  dan 1,35 miliar dolar AS. Adapun share impor terbesar sepanjang Januari 2018  didominasi oleh mesin atau pesawat mekanik sebesar  2,19 miliar dolar AS atau 16,85 persen dari total impor, dan mesin peralatan listrik sebesar 1,93 miliar dollar AS, atau 14,85 persen dari total impor. Struktur impor menurut penggunaan barang masih didominasi oleh golongan bahan baku penolong, mencapai 74,58 persen dari total impor sepanjang Januari 2018.

Laporan BI mengenai  Neraca Pembayaran Indonesia triwulan II 2018 menyatakan  defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II 2018 mengalami kenaikan, tercatat 8,0 miliar dolar AS  (3,0 persen PDB), lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar 5,7 miliar dolar AS (2,2 persen PDB). Sampai dengan semester I 2018, defisit transaksi berjalan masih berada dalam batas yang aman, yaitu 2,6 persen PDB. Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan non migas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas. Penurunan surplus neraca perdagangan non migas terutama disebabkan naiknya impor bahan baku dan barang modal, sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat di tengah ekspor nonmigas yang turun. Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan yang lebih tinggi saat lebaran dan libur sekolah. Pada triwulan II 2018, sesuai dengan pola musimannya, terjadi peningkatan pembayaran dividen sehingga turut meningkatkan defisit neraca pendapatan primer.

Transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2018 mencatat surplus 4,0 miliar dolar AS, lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya dengan surplus sebesar 2,4 miliar dolar AS. Surplus transaksi modal dan finansial terutama berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tetap tinggi dan investasi portofolio yang kembali mencatat surplus. Surplus investasi lainnya juga meningkat, terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri. Namun demikian , surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan, sehingga pada triwulan II 2018 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara  keseluruhan mengalami defisit sebesar 4,3 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar 119,8 miliar dolar AS. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Berdasarkan data tersebut, defisit neraca transaksi berjalan disebabkan oleh kuatnya pengaruh  penurunan ekspor non migas dan kenaikan impor bahan baku dan modal serta migas yang berakibat pada peningkatan defisit neraca perdagangan.  Meskipun terjadi surplus di transaksi modal dan finansial, namun demikian tidak mampu menutup besarnya defisit tersebut.

Berdasarkan diagram tersebut, peranan sektor non migas dan sektor industri terhadap impor masih mendominasi impor Indonesia. Impor industri terutama digunakan untuk impor bahan baku penolong yang sangat berpotensi meningkatkan ketergantungan industri kita terhadap impor. Situasi akan menjadi lebih berat jika nilai tukar rupiah melemah, karena volume impor sulit untuk turun yang disebabkan sifat inelastis impor bahan baku penolong terhadap pelemahan rupiah. Kondisi ini akan meningkatkan nilai nominal impor dan meningkatnya defisit neraca perdagangan.

Penutup

Mengacu kepada data defisit neraca transaksi berjalan Indonesia, kenaikan tarif PPh Pasal 22 untuk 1.147 jenis barang konsumsi impor bukan merupakan obat penyembuh untuk menyembuhkan defisit structural neraca transaksi berjalan, namun lebih bertujuan mengurangi rasa “sakit” neraca transaksi berjalan, karena kecilnya pangsa impor barang konsumsi terhadap total impor.

Mengurangi  ketergantungan struktural industri dalam negeri terhadap impor bahan baku penolong merupakan “obat penyembuh, karena memperkecil defisit neraca transaksi berjalan yang berkelanjutan. Memperkuat keterkaitan sektor industri baik “forward” maupun “backward” nampaknya bukan merupakan teori yang usang untuk diterapkan kembali di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang semakin cepat waktunya sehingga perekonomian negara kita, walaupun merupakan perekonomian terbuka namun tidak sensitif terhadap ketidakpastian dan krisis yang melanda negara lain. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir