BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?

Tuntutan reformasi struktural sudah cukup lama disuarakan oleh banyak ekonom Indonesia. Tapi suara itu kemudian dari waktu ke waktu hanya bergema di berbagai forum seminar atau menjadi bahan diskusi di media. Reformasi struktural tidak pernah terimplementasikan dalam bentuk kebijakan nyata yang diambil oleh Pemerintah dan Lembaga-lembaga otoritas.

Kita semua sadar ada yang salah di perekonomian kita, tapi seperti gamang dalam mengambil tindakan. Tentu ini menjadi pertanyaan. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu jelas masalahnya tetapi tidak ada satupun yang berani mengambil tindakan untuk memulai memperbaiki. Memulai yang kita sebut reformasi struktural.

Adanya tuntutan reformasi struktural benar menunjukkan kita sadar ada yang salah dalam perekonomian kita, dan kesalahan itu bersifat struktural. Tapi saya menduga tidak banyak yang tahu sebenarnya apa saja yang salah dan salahnya dimana? Oleh karena itu tidak banyak juga yang tahu darimana reformasi struktural seharusnya dimulai.

Current account deficit (CAD) yang kita alami selama bertahun-tahun adalah symptom yang mengindikasikan ada permasalahan struktural di perekonomian kita. CAD memang menyebabkan perekonomian kita fragile, rentan terhadap berbagai shock khususnya shock di perekonomian global. Namun demikian CAD adalah akibat bukan sebab. Banyak faktor yang mengakibatkan kita mengalami CAD secara terus menerus. Mulai dari ketergantungan ekspor, daya saing ekspor yang rendah, sektor jasa yang tidak terbangun, hingga aliran modal asing yang terlalu bebas.

Kalau kita telusuri kembali, ternyata semua faktor-faktor penyebab CAD juga merupakan akibat bukan sebab.  Ketergantungan impor dan rendahnya daya saing ekspor kita ternyata disebabkan begitu banyak faktor, antara lain semakin menurunnya produktivitas pertanian, terjadinya proses deindustrialisasi, kebijakan perdagangan internasional yang tidak tepat, dan banyak faktor lainnya.

Disisi lain persoalan sektor jasa yang tidak terbangun bisa kita lihat di industri maritim. Kita yang selalu membanggakan diri sebagai negara maritim ternyata tidak punya perusahaan kapal kelas dunia. Akibatnya setiap kita melakukan perdagangan internasional kita menggunakan jasa transportasi laut milik asing.

Demikian juga dengan pariwisata. Kita yang punya Bali, destinasi wisata nomor satu dunia, ternyata jumlah wisatawan kita kalah dengan Vietnam yang baru saja memulai proses pembangunan ekonominya. Terakhir, di sisi permodalan, aliran modal asing yang masuk ke perekonomian kita didominasi oleh investasi portfolio atau hotmoney yang justru membuat perekonomian kita semakin fragile.

Untuk memulai reformasi struktural kita harus membedah seluruh permasalahan diatas satu persatu. Kita harus menemukan apa yang menjadi akar semua permasalahan. Tanpa melakukan ini terlebih dahulu reformasi struktural akan terus menjadi wacana yang hanya bergema di seminar-seminar, atau menjadi topik tulisan yang hanya menarik untuk dibaca. Tidak lebih. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang