BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia, Pengarah BNPB RI
Recovery Juga Didukung oleh Budaya dan Kondisi Masyarakat

Kebetulan bidang kami adalah bangunan tahan gempa. Tentu saja masalah penetapan status bencana sosial ada tim lain yang mengkaji itu. Yang jelas memang perlu kajian menyeluruh terutama parameter-paremeter yang teliti sebelum diumumkan. 

Untuk saat ini kami yang basecamp di Yogya masih konsentrasi ke Lombok, NTB sehingga belum bisa terjun ke Palu. Secara visual yang dapat kami pantau, kelihatannya setahap demi setahap sudah terlihat bantuan dan relawan yang masuk ke Palu sekitarnya, meskipun ada kendala-kendala tapi keputusan terakhir tentu ada pada tim yang lebih lengkap. 

Biasanya untuk penetapan status bencana dan progressnya itu ada yang namanya Tim Kaji Cepat yang turun lebih dulu, lalu memberikan laporan awal. Laporan sekarang sudah lebih cepat karena menggunakan IT on the spot, cuma di sana masih ada kendala soal komunikasi. Ihwal komunikasi di daerah bencana ini memang tidak mudah dan harus didukung oleh jaringan komunikasi yang memadai. Sehingga kalau ada yang rusak satu titik, maka bukan hanya titik itu yang perlu diperbaiki, tapi ada suatu sistem jaringan yang perlu diperbaiki secara menyeluruh.

Dampak bencana dengan kerusakan berat, yang krusial memang biasanya akses jalan dan pelabuhan putus, juga bandara rusak. Kominfo saat ini saya dengar sudah memasang beberapa ‘satelit’ komunikasi, cuma tentu masih terbatas mengingat jumlah manusia yang banyak sekali. 

Kalau dulu di Aceh memang belum ada Undang-undang Kebencanaan. hanya ada Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) dengan kerja yang efektif dan fleksibel meski sederhana. Tetapi dengan sistem yang modern saat ini tentu komponennya lebih banyak maka memang akan semakin rumit. Bagaimanapun keadaan bencana itu adalah keadaan tidak normal/darurat. Amat dinamis dan setiap hari ada situasi yang berubah dan perlu diantisipasi, apalagi sistem tidak berjalan dengan semestinya.

Kondisi tidak normal tersebut meski ditunjang dengan peralatan canggih seperti Jepang dan negara maju lainnya, toh kebobolan juga dengan adanya penjarahan yang sama seperti di Palu. Contoh ketika terjadi topan Andrew di Amerika Serikat, terjadi juga penjarahan. 

Maka oleh karenanya dalam sistem kebencanaan ada yang disebut darurat panik, suatu keadaan dimana warga terdampak lebih dikuasai oleh perasaan sehingga tidak bisa berpikir normal. Ketika keadaan sudah sedikit bisa dikuasai maka ada istilah darurat terkendali. 

Untuk membangun kembali perekonomian daerah terdampak bencana ada banyak faktor. Pertama, skala bencana. Semakin besar bencana maka akan semakin lama. Kedua, masalah culture atau kemajuan peradaban di masyarakat terdampak bencana. Hal itu bisa sangat menentukan, ketika gempa Yogya 2006, recovery relatif lebih cepat. Ketika itu, saya lihat gempa terjadi pada pagi hari, tapi sore harinya sudah banyak orang yang memperbaiki rumah. Bahkan sore itu sudah ada yang jualan ronde dan lain-lain. Penduduk juga aktif ikut membersihkan lingkungan rumah. Jadi memang daya dukung budaya dan kondisi masyarakatnya juga menentukan. Rumah yang rusak cepat diperbaiki dengan alasan malu dengan kondisi rumah yang rusak, apalagi jika ada koleganya yang datang. 

Jadi begitulah, di masyarakat kita memang beragam. Ada yang sudah sophisticated, ada yang sudah berkembang tapi ada juga yang masih belajar. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif