BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Reaksi Jokowi Soal Khashoggi Basa-basi Diplomasi Tanpa Risiko

Apa yang dilakukan Presiden Jokowi dengan berkomentar soal penyelidikan terkait kematian Jamal Khashoggi adalah basa-basi diplomatik, tapi juga sekaligus respon atas opini yang berkembang di masyarakat mengenai terbunuhnya Khashoggi yang begitu mengerikan. 

Indonesia punya kepentingan di Arab Saudi sana. Kita punya 600 ribu TKI di Arab Saudi yang rutin mengirimkan uang ke Indonesia. Selain itu, Indonesia belum mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap dan pasti mengenai terbunuhnya Khashoggi. Sehingga pemerintah mengambil langkah hati-hati. Akan tetapi, karena negara seperti Amerika Serikat yang dipimpin Donald Trump dan negara-negara Uni Eropa sudah bersikap tegas, baru Indonesia bersikap. 

Ini merupakan langkah aman bagi Indonesia, sekaligus juga (untuk) "memuaskan" publik Indonesia bahwa pemerintah tidak bisa menerima kematian seorang wartawan kawakan secara mengerikan. Komentar Jokowi ini aman dan terukur. Nggak ada resiko apa-apa terhadap (hubungan dengan) Arab Saudi tapi di saat bersamaan terlihat sebagai pihak yang prihatin terhadap kejadian itu. 

Masalah kematian Jamal Khashoggi ini menyangkut putra mahkota Pangeran Muhammad Bin Salman (MBS). Sekarang posisinya dalam sorotan. Kalau Indonesia bersikap keras sejak awal, seperti Turki, misalnya, dan kemudian MBS tersingkir (dari posisi putra mahkota), diminta ayahanya Raja Salman untuk mundur demi menyelamatkan citra baik Arab Saudi, mungkin tidak ada masalah. Tetapi kalau sekiranya sikap Indonesia keras, dan MBS survive (selamat) dari krisis ini, diduga kuat, menurut saya, ia akan melakukan pembalasan terhadap negara-negara yang ketika krisis ini terjadi menyerangnya. Sehingga Indonesia tidak mau
berspekulasi seperti itu.  

Turki selama ini memanfaatkan kematian Khashoggi di konsulat Arab Saudi di negerinya untuk kepentingan politiknya. Namun, sampai saat ini Presiden Erdogan belum pernah secara langsung menyerang MBS karena Turki menyadari posisi Arab Saudi sangat penting di Timur Tengah. Saudi juga punya investasi lumayan di Turki. Kendati Turki ingin menekan Arab Saudi, namun ia juga tak ingin kehilangan hubungan dengan negeri itu.     

Soal Khashoggi ini beda dengan reaksi Indonesia saat Australia berencana memindahkan kedubesnya ke Yerusalem. Karena masalah Palestina adalah masalah yang didukung oleh lebih dari 100 negara, di antaranya negara-negara Non Blok di mana Indonesia dan negara-negara Islam lain menentang Israel.

Kalau pemerintah Jokowi tidak bersikap keras seperti pada Australia kemarin, akan menimbulkan reaksi oposisi dalam negeri terhadap Jokowi. Umat Islam di dalam negeri jadi pertimbangan. Dan Palestina masalah yang sangat sensitif. Tidak ada resiko bagi Jokowi jika menentang rencana Australia itu. Tidak ada risiko pembalasan dari Israel atau Amerika Serikat karena begitu banyak negara yang berpandangan serupa. Pada saat bersamaan, ketika kita tak menentang justru legitimasi Jokowi di kalangan umat Islam akan lenyap. 

Menyangkut Arab Saudi, negeri itu cukup berpengaruh di Indonesia. Bagaimana pun juga mereka punya kaki-kaki tangan di banyak lembaga yang mereka bantu (pendanaannya). Di dalam pengaruh Saudi pada kaum muslim kota di Indonesia--walau mereka tak besar jumlahnya--mereka sangat vokal. Posisi Arab Saudi yang begitu penting di Indonesia itu, membuat masyarakat kita lebih bersikap silence (diam). Kalau terjadi di negara Islam lain, akan muncul reaksi cukup keras. 

Persekusi, pembunuhan maupun penculikan hal biasa di Arab Saudi. Tetapi selama ini mereka imun atau kebal terhadap kritik dari dunia internasional karena hubungan erat dengan AS dan negara-negara penting di Eropa. Karena posisinya cukup kuat dan ketergantungan negara-negara Islam terhadap Arab Saudi dalam hal bantuan ekonomi, sehingga hal-hal seperti pelanggaran HAM itu terpingirkan. Dianggap hal sekunder dibandingkan dengan kepentingan ekonomi. 

Apa MBS akan survive dari krisis ini? Yang jadi penentunya Turki. Di balik pemberitaan-pemberitaan media di Turki yang cukup menekan MBS, di balik layar ada negosiasi antara Turki dan Arab Saudi. Turki akan bertanya, seberapa besar yang akan didapat demi menyelamatkan MBS? Kalau MBS tersingkir, visi 2030 Arab Saudi akan jadi masalah. Karena itu visinya. Itu gagasannya, dibantu oleh ahli-ahli dari AS untuk meninggalkan ketergantungan Arab Saudi pada minyak di tahun 2030. (ade)    

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional