BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Rangkul dan Binalah Anak yang Membully Guru Itu

Kemarin, 10 Februari 2019 masyarakat kita yang memiliki akses terhadap media sosial, seperti facebook, twitter, Youtube serta media lainnya, dihebohkan oleh beredarnya sebuah video tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang siswa SMP terhadap gurunya. Seorang siswa yang melakukan bully terhadap guru dengan cara-cara yang sesungguhnya membakar emosi setiap orang yang menonton, atau menyaksikan adegan yang dilakukan sang siswa. 

Betapa tidak, seorang siswa yang masih bersekolah di sekolah SMP tersebut, tanpa ada rasa takut, melakukan hal yang sungguh di luar batas. Selain ia menarik baju, mengacung-acungkan tangan untuk memukul, juga dengan tanpa adab merokok di ruang kelas. Pantas saja, kalau banyak orang, baik orang tua, maupun guru, bahkan para siswa yang menyaksikan adegan itu, merasa dan mengeluarkan kata-kata yang bermacam-macam dalam nada yang prihatin dan emosi. Apalagi para guru yang profesi mereka seakan diinjak-injak oleh seorang anak yang masih ingusan itu, pasti rasa marah dan ungkapan marah itu meluncur lewat ucapan dan kata. Buktinya, di media social, kita melihat banyak sekali orang yang mengutuk dan menyesali kejadian itu. Banyak yang berharap agar anak yang seperti itu layak dihukum berat. Bahkan bukan mustahil kita berusaha mencari hukuman apa yang pantas terhadap anak tersebut. Ya, begitu geramnya kita.

Sangking geramnya, banyak pula yang menyesali dan mengadili HAM. Ada yang berkata, ini gara-gara HAM. Ya, karena selama ini ketika guru melakukan sedikit saja tindak kekerasan terhadap anak, akan berhadapan dengan masalah HAM dan ancaman UUPA. Jadi, masalahnya semakin panjang, bukan? Maka, tidak heran kalau banyak orang yang prihatin, mengulas di media social, menjadi berita di media massa, membuat kasus itu menjadi viral di media social dan media massa. Pokoknya, semua berharap agar anak tersebut dihukum dengan hukuman setimpal dan kita pun bertanya, hukuman apa yang pantas?

Mungkin menghukum siswa yang demikian nakal dan tidak pantas ini, adalah sebuah tindakan bijak. Namun, akan lebih bijak lagi, sebelum kita mencari format hukuman yang pantas, kita melihat beberapa hal, misalnya latar belakang kehidupan siswa dan orang tua, lingkungan tempat tinggal, kondisi anak kekinian, serta bila perlu melihat   lembaga pendidikannya yang ia tempuh serta hal lain yang tekait masa depan anak.

Nah, apabila kita sudah mengidentifikasi, mereview tentang semua itu, baru kemudian kita menentukan apakah akan memberikan hukuman yang pantas, atau ada cara lain, maupun kita balik, bukan memberikan hukuman, tetapi memberikan tindakan pembinaan, agar ia tidak melakukan hal serupa dan bila mungkin menjadikan dia sosok yang baik yang kita sebut sebagai duta anti kekerasan di lembaga pendidikan. 

Cara yang terbaik untuk menyikapi kasus ini adalah dengan merangkul dan memberikan tindakan pembinaan terhadap anak yang dianggap bermasalah ini. Hal ini penting agar tidak terjadi labelisasi atau stigmanisasi terhadap dirinya yang kelak membuat ia semakin menjadi-jadi. Oleh sebab itu, dengan merangkul dan membinanya, ia pun akan berubah. Apalagi ketika ia berubah lalu diberikan reward dalam bentuk penglibatan dirinya untuk berada di garda depan sebagai duta siswa yang melakukan kegiatan nonviolence di sekolah.

Kiranya, seringnya terjadi kasus-kasus kekerasan terhadap guru di lembaga pendidikan kita selama ini, disebabkan oleh banyak faktor. Harus kita fahami pula, bahwa ini zaman sudah berubah, nilai-nilai yang dahulu kita anut juga ikut berubah. Rasa hormat, saling menghargai, kasih sayang yang dahulu menjadi dasar dalam diri, kini sudah pupus. Akhlak, bukan lagi panglima. Semua perubahan ini karena kita orang dewasa dan oleh sebab itu, apa yang terjadi pada anak-anak yang tidak patuh tersebut, juga bersumber dari model yang mereka ikuti, yakni orang tua, guru dan masyarakat. Maka dalam kasus ini, bila kita ingin mencari siapa yang salah, maka semua kesalahan itu pada umumnya bersumber dari orang tua di rumah, bisa pula dari guru di sekolah dan juga dri masyarakat.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar hal semacam ini tidak terjadi lagi? Kuncinya adalah pada kemauan kita untuk merekat kembali sinergi tri pusat pendidikan. Bangunlah, akhlak generasi bangsa lewat ketiga jalur pendidikan yang selama ini kita anut, berbasis keluarga, bersinergi dengan sekolah dan masyarakat. Bangun kembali sistem kontrol pada ketiga ranah pendidikan tersebut. Insya Allah, akan terbangun generasi yang berakhlak di semua pusat pendidikan tersebut. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional