BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti LIPI, Pengamat Politik 
Quo Vadis Indonesia?

Ketidakpastian yang dirasakan secara meluas belakangan ini mesti direspons secara tangkas dan solutif. Namun kegaduhan yang meluas akhir-akhir ini bukan tanpa sebab. Tapi yang jelas ada yang salah dengan pembangunan yang berlangsung selama ini sehingga menyebabkan kesenjangan sosial ekonomi cukup serius.

Kesenjangan tersebut telah meningkatkan rasa ketidakadilan terhadap masyarakat. Akumulasi dari ketidakadilan ini memunculkan ketidakpuasan, kekecewaan, dan apatisme rakyat terhadap cita-cita tujuan bernegara yang diperjuangkan. Bila perasaan ini akumulatif maka akan berubah jadi keresahan sosial (social unrest) secara merata. Dan ini akan mengancam stabilitas dan keamanan.

Pemerintah harus merespons keadaan ini secara integrated dengan mengefektifkan kelembagaan agar mampu mengeksekusi program-program Nawacita. Indonesia tidak boleh menjadi negara lemah yang ditandai oleh institusi-institusi yang disfungsi. Sebab bila institusi-institusi yang ada disfungsi untuk jangka waktu yang lama maka Indonesia akan menuju failed state.

Hal itu yang perlu diantisipasi saat ini. Evaluasi terhadap institusi-institusi yang ada dan bagaimana membuatnya efektif perlu dibahas serius dengan melibatkan semua elemen terkait sehingga tanggungjawab harus dipikul bersama untuk suatu solusi yang komprehensif dan kontinum (utuh). Cara-cara parsial dan berjangka sangat pendek membuat batas Indonesia juga tidak panjang.

Kesepakatan bangsa ini untuk menjalankan demokrasi harus berkorelasi positif terhadap terwujudnya pemerintahan yang baik dan tumbuh kembangnya nilai-nilai positif seperti trust building, saling menghormati, dan toleransi. Bukan malah sebaliknya, menciptakan hal-hal buruk yang membuat masyarakat menafikan nilai-nilai keadaban.

Elite/aktor dan tokoh harus bisa menjadi panutan yang bisa diteladani masyarakat. Mereka juga tak seharusnya menjadi faktor yang constraining (penghambat) bagi proses atau konsolidasi demokrasi.

Pemilu/pilkada yang berlangsung sejauh ini mestinya naik kelas. Pemilu/pilkada yang mencerahkan dan mengedukasi rakyat sehingga kematangan politiknya juga meningkat. Elite/aktor, tokoh dan rakyat memegang peran penting dalam membangun demokrasi yang sehat, berkualitas, dan beradab. Semoga! (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI